Menyangkal diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus (Matius 16:21-28)

Pada umumnya untuk menjadi anggota suatu kelompok atau organisasi, setiap orang harus melewati atau memenuhi sejumlah persyaratan yang ada. Misalnya untuk menjadi pegawai swasta atau negeri, orang harus lulus seleksi dengan sejumlah persayaratan.

Untuk masuk suatu lembaga pendidikan atau sekolah di jenjang manapun sejumlah syarat harus dipenuhi. Jika syarat-syarat itu tidak dipenuhi, maka dengan demikian, seseorang tidak layak untuk masuk atau bergabung. Dengan adanya syarat-syarat atau ketentuan itu, kualitas seseorang dipertaruhkan dan sekaligus akan berdampak pada kinerja yang ditunjukkan dalam usaha atau pekerjaan yang ada. 

Dalam pembacaan saat ini, Yesus pun mengajukan persyaratan ketika para murid hendak mengikutNya. Para murid harus menunjukkan sisi terbaik mereka dengan memenuhi persyaratan yang disampaikan Yesus dalam ayat 24. Yaitu bahwa siapapun yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. 

Persyaratan Yesus dalam ayat ini, dibuka dengan kata “Mengikut Aku… dan ditutup kembali dengan kata yang sama.. “Mengikut Aku”. Ini bukan hanya sekedar kebetulan, tetapi inilah letak kesungguhan manusia untuk menjalankan persyaratan dengan tetap setia kepada Yesus sampai akhir. Karena banyak pengikut Yesus yang hanya bertahan sampai dipertengahan jalan, ketika telah menyelesaikan dua persyaratan yang ada dan kemudian memilih mengikut yang lain dan bukan lagi Yesus. 

Menyangkal diri yang dimaksud Yesus adalah bagaimana manusia tetap mengatakan “tidak” kepada diri sendiri dan “ya” kepada Allah. Menyangkal diri berarti harus melupakan diri sendiri dan menjadikan Allah hal yang paling penting dalam hidup. 

Selanjutnya, memikul salib berarti rela berkorban, siap menderita dan bersedia untuk meninggalkan segala kesenangan serta kenikmatan hidup dalam mengikut Yesus. 

Tuntutan atau syarat ini tidaklah mudah. Menyangkal diri dan memikul salib dalam perjalanan hidup kita yang penuh dengan tantangan dan cobaan serta berbagai tawaran dunia yang menggiurkan terkadang menghantar kita pada ketidakseriusan dan menolak untuk melakukannya. Tetapi inilah jalan yang ditempuh Yesus bahwa tiada kemuliaan tanpa salib dan penderitaan, tiada kebangkitan tanpa kematian dan tiada keberhasilan tanpa pengorbanan. 

Oleh karena itu, di minggu sengsara yang keempat ini kita harus mengimani bahwa kerikil-kerikil tajam, penderitaan, pergumulan dan cobaan yang kita alami dalam hidup ini adalah jalan yang harus kita lalui sebagai sebuah persyaratan menjadi pengikut Kristus yang benar-benar telah ditempah dengan sedemikian rupa.

Semoga kita dapat menjadi pengikut Kristus yang berkualitas dengan memenuhi syarat ini, menyangkal diri dan memikul salib setiap hari dengan sukacita sambil berjalan bersama Yesus yang telah menunjukkan jalan itu bagi kita. Amin! [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *