Kerendahan Hati (Amsal 22:24)

Tentu sebagai manusia yang hidup dalam dunia ini, masing-masing pribadi mempunyai tujuan/goal, sasaran yang ingin dicapai. Atau dengan pengertian serupa, setiap orang tentu memiliki harapan terkait dengan apa yang tengah dikerjakan, dilakukan agar ada hasil akhir yang sepadan. Sehingga setiap apa yang ditekuni itu tidak menjadi sia-sia.

Begitu pula dengan kehidupan orang Kristen. Tentu dibalik segala sesuatu yang dihidupi, diimani, dipercayai berharap ada upahnya, sehingga berdasarkan hal ini orang Kristen semakin giat dalam iman percayannya pada Tuhan. Salah satu prinsip hidup yang ditekan kan dalam Kekristenan yaitu “kerendahan hati”.

Amsal dalam istilah ibrani disebut dengan Mashal, yang memiliki pengertian sebagai ucapan orang bijak, perumpamaan, atau peribahasa berhikmat. Sehingga kitab Amsal ini berisikan pengajaran tentang hikmat dengan standarnya adalah Allah dalam segala kebenaranNya. Dalam kitab Amsal ini kita akan menemukan berbagai macam prinsip hidup yang seringkali diabaikan namun ternyata prinsip-prinsip ini dapat menjadi integritas yang baik.

Berdasarkan bacaan kita saat ini, kita mau diajarkan bagaimana menghidupi salah satu prinsip hidup ini, yaitu kerendahan hati. Ini pokok yang penting maka dituliskan dalam Alkitab.

Apa sih kerendahan hati itu?

Kita dapat memahami bagian ini sebagai suatu sikap yang belajar menyadari akan keterbatasan kemampuan diri, sehingga seseorang tidak akan memiliki niat untuk menjadi sombong. Sederhananya adalah rendah hati berbicara tentang tidak sombong.

Sangat sederhana, namun dalam mewujudnyatakannya sangatlah sulit. Hal ini karena natur keberdosaan kita seolah menggiring kita untuk lebih menyombongkan diri dengan segala hal yang kita miliki.

Ada berbagai macam alasan lain mengapa tidak mampu untuk merealisasikan satu prinsip ini, contohnya jika saya terus rendah hati orang lain tidak akan menghargai, atau buat apa saya rendah hati, toh pada akhirnya saya punya banyak hal, dan lain sebagainya.

Namun rupanya, perintah atau ajakan hidup dalam kerendahan hati ini tidak sekadar ditulis saja, tetapi ada upah, ada hasil dibalik itu semua.

  1. Kekayaan. Walaupun pada kenyataannya banyak orang jatuh dalam dosa kesombongan berkenaan dengan kekayaan. Namun firman Tuhan memberikan pemahaman luar biasa, dibalik kerendahan hati ada kekayaan yang tersedia. Perlu dipahami, kekayaan tidak selamanya berbicara tentang materi, tetapi juga bisa dalam bentuk kesabaran, kasih, pengampunan dan masih banyak lagi.
  2. Kehormatan. Hal yang sama pula terkadang yang disombongkan orang adalah ketika mendapatkan penghormatan entah karena pencapaian atau kedudukan. Namun dibalik kerendahan hati juga ada kehormatan. Berbicara tentang begitu rupa dihargai, disegani.
  3. Kehidupan. Ini adalah janji upah dibalik kerendahan hati. Mencakup seluruh aspek hidup.

Semua ini diperoleh apabila kita mampu bertahan dalam ujian iman kerendahan hati. Tetapi untuk sampai pada tahap ini haruslah disadari penuh dengan rasa takut akan Tuhan, bagaimana kita begitu kagum akan karya Allah dalam Kristus Yesus.

Bagi keluarga Kristen saat ini, sudahkah kita mampu hidup dengan rendah hati? Mampukah kita untuk mengakui kesalahan dan melepaskan pengampunan dengan seisi rumah kita? Suami kepada Istri dan sebaliknya, orang tua kepada anak dan sebaliknya. Mampukah kita mengesampingkan ego kita?

Ingatlah bahwa Tuhan menentang orang yang congkak hatinya, tetapi bermurah hati pada orang yang hidup dalam rendah hati. [*]

Penulis: Vic. Ratna Kristiani Ina, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *