Mampukah Kasih Itu Diwujudkan? (Yohanes 13:31-35)

Tema tentang kasih adalah salah satu dari tema yang paling banyak disampaikan dalam khotbah, juga yang mendominasi mimbar-mimbar gereja, pendalaman Alkitab (PA) dan seterusnya. Pada satu sisi kita bersyukur karena kasih juga masih menjadi topik utama dalam gereja. Namun pada sisi yang lain, kita juga harus prihatin karena walau kasih yang paling sering dibicarakan dan dibahas, ternyata semua itu hanya sebatas wacana atau teori. Karena dalam praktik kehidupan nyata sehari-hari, cara hidup kita seringkali jauh dari kasih yang diperintahkan Tuhan. Faktanya, banyak sekali kekacauan, perpecahan, permusuhan, penolakan, kebencian, saling membalas dendam justru telah menjadi sejarah kelam mewarnai perjalanan hidup bergereja. 

Melalui nas ini, Tuhan Yesus memberi teladan dan menunjukkan bagaimana seharusnya kasih yang benar itu dipraktekkan.

1. Kasih itu harus memiliki “daya tahan”

Kebanyakan kasih yang kita tunjukkan gampang luntur, apabila kita dikecewakan orang lain. Apalagi ketika kita disakiti atau dikhianati. Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana kasihNya yang tidak goyah, walau ia menyadari betul saat itu, bahwa tiba saatnya Ia akan dikhianati oleh Yudas, disangkali oleh Petrus dan ditinggalkan oleh murid-muridNya. Yesus justru memberi perintah yang baru untuk saling mengasihi (ayat 31, 33).

Yang menarik disini kata “baru” berarti “segar” atau dalam pemahaman lebih luas kasih yang kita tunjukkan itu harus selalu segar kepada orang lain. Tidak boleh luntur atau goyah karena sikap orang lain yang mengecewakan kita. Itulah kasih Tuhan Yesus yang selalu segar, memiliki kekuatan dan daya tahan, sehingga walau dikhianati, disangkali, ditinggalkan sendirian, kasihNya tidak pernah berubah dan selalu tulus untuk manusia.      

2. Kasih itu harus dipraktekkan dan bukan hanya sekedar teori

Bagi Yesus, kasih memang tidak cukup hanya diajarkan atau hanya sekedar teori, dijadikan simbol, slogan atau wacana semata. Tetapi harus melekat dalam gaya hidup kita, sehingga menjadi ciri khas setiap murid-muridNya. Untuk itu, Yesus memberi pengajaran dan sekaligus teladan (ay.34). Melalui ungkapan ini, “sama seperti Aku telah mengasihimu…”, kita dapat memahami bahwa ketika Ia memberi perintah untuk mengasihi, Ia telah mempraktekkan kasih itu terlebih dahulu. Yesus tidak hanya pandai berteori tentang kasih, tetapi hidupNya adalah teladan bagaimana mengasihi secara sungguh. 

3. Kasih Agape harus menjadi identitas orang percaya

Kasih agape adalah kasih yang rela berkorban tanpa pamrih. Jika hal ini dikaitkan dengan konteks saat itu, berarti adanya kesediaan dari Tuhan untuk mengampuni murid-muridNya, bahkan yang mengkhianatinya sekalipun. Selain itu juga, adanya kesediaan Tuhan untuk menerima keadaan murid-muridNya apa adanya, sekalipun sangat mengecewakannya. Adanya kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih. Adanya kesediaan untuk tetap mengasihi walau kasih itu tak terbalas (ayat 35). Itulah model kasih yang juga seharusnya kita terapkan dalam hidup kita sebagai anak-anakNya. 

Pada akhirnya, kasih agape adalah tanda pengenal atau identitas pada murid Kristus. Orang lain dapat mengenal kita sebagai murid Tuhan, bukan karena warna atau model  pakaian yang kita pakai, bukan hanya sekedar ibadah minggu yang setia kita hadiri. Bukan hanya sekedar kata-kata yang berbau agama yang kita lontarkan, bukan hanya dari berapa banyak ayat Alkitab yang rajin kita kutip dan hafalkan. Tetapi, identitas seorang murid Kristus diukur dari bagaimana relasi yang penuh kasih mesra dengan Tuhan dan sesama terus terpelihara.

Apakah kita mau mengulurkan tangan kita kepada yang tersisih? Apakah kita rela memberi dan berbagi dengan mereka yang menderita? Apakah kita mau menyapa dan tersenyum dengan mereka yang tak dipandang dunia ini? Apakah kita mau mengampuni yang bersalah kepada kita? Apakah kita mau bersikap terbuka menerima orang lain apa adanya bahkan mereka yang berbeda dengan kita?

Kasih Tuhan Yesus itu terlalu tinggi, dalam, dan luas untuk dibicarakan. Tak akan pernah cukup waktu untuk merenungkannya. Sebab hanya dengan mempraktekkan kasih, kita dapat menjadi murid-murid dan saksi Tuhan Yesus. Amin! [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *