Ada sebuah pepatah bijak yang berkata: “Rumah adalah sekolah pertama, dan keluarga adalah guru pertama.” Apa yang diajarkan, diteladankan dan ditanamkan dalam keluarga akan mempengaruhi seluruh jalan hidup anak-anak. Karena itu, iman kristen yang kuat tidak hanya ditopang oleh gedung gereja atau persekutuan besar, tetapi pertama-tama oleh keluarga yang setia kepada Tuhan.
Yosua 24 merupakan pasal terakhir dari kitab ini dan berisi pesan terakhir Yosua sebagai pemimpin besar Israel sebelum ia wafat. Yosua mengumpulkan bangsa Israel di Sikhem untuk memperbarui perjanjian dengan Tuhan. Ia tahu, perjalananiman bangsa itu tidak akan mudah. Mereka sudah menerima tanah perjanjian, tetapi tantangan terbesar justru adalah menjaga kesetiaan. Dalam situasi itu, Yosua berkata: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan” (Yosua 24:15).
1. Allah Setia Memimpin Generasi demi Generasi
Dalam Yosua 24:1–13, Yosua mengingatkan sejarah keselamatan: dari Abraham yang dipanggil keluar dari negeri asing, Israel yang dibebaskan dari Mesir, hingga mereka memperoleh tanah perjanjian. Semua itu bukan hasil kekuatan manusia, tetapi karya kasih setia Allah.
2. Kepemimpinan Iman di mulai dari keluarga
Ayat 14-15, Yosua menantang bangsa itu: “Pilihlah pada hari ini, kepada siapa kamu akan beribadah.”
Ia sadar, iman tidak otomatis diwariskan. Walau mereka sudah melihat mujizat Allah, tetap ada godaan untuk mengikuti ilah asing. Menjadi keluarga Kristen bukan sekadar karena lahir dalam keluarga Kristen. Melainkan umat harus memilih dengan sadar dan tegas untuk setia kepada Tuhan. Disinipun, Yosua tidak hanya bicara kepada bangsa Israel secara umum. Ia menegaskan terlebih dahulu untuk rumah tangganya: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Artinya, teladan iman dimulai dari keluarga. Suami istri yang saling mendukung dalam doa, orangtua yang membimbing anak-anak dalam firman, anak-anak yang belajar taat dan hormat, sesungguhnya itulah pelayanan pertama yang sejati.
3. Komitmen Iman Harus Diteguhkan dengan Tanda
Yosua kemudian menulis komitmen umat itu dalam kitab Taurat, lalu mendirikan sebuah batu peringatan sebagai saksi (ay. 25–28). Itu adalah simbol agar generasi mendatang tidak lupa akan janji setia mereka.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam kehidupan keluarga :
- Jadikanlah rumah kita sebagai mezbah doa. Jangan biarkan rumah lebih sering dipenuhi suara TV atau HP daripada doa keluarga.
- Orangtua sebagai teladan iman. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat di rumah dibandingkan dari khotbah di gereja. Karena itu, libatkan semua anggota keluarga dalam pelayanan. Dari hal sederhana: membuka ibadah, membaca firman, atau menyanyi bersama. Berkomitmenlah untuk mengatakan dengan iman: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yosua 24:1-28 adalah undangan sekaligus tantangan. Allah telah setia dari generasi ke generasi. Sekarang giliran kita untuk menanggapi dengan memilih dan berkomitmen. Karena itu, mari kita juga berkata seperti Yosua: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Amin! [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th