Sungguh Indah Rancangan Tuhan dan Tidak Terselami oleh Manusia (Ayub 36:24-26)

Setiap keluarga Kristen pasti telah memikirkan dan menetapkan segala rancangan kedepan yang harus diwujudkan. Contoh kecil dalam sebuah keluarga mungkin sudah merencanakan bulan depan harus pergi berlibur di Bali. Dalam Membuat perencanaan pun membutuhkan ketelitian untuk menentukan segala sesuatu yangdibutuhkan. Namun apalah daya ketika berjalannya hidup rancangan kita tidak selalu berjalan dengan baik. Ada saja kegagalan, ada saja hambatan dan persoalan lainnya.

Melalui kisah Ayub, kita mendapati realitas diri kita ketika berhadapan dengan kegagalan, hambatan dan kesengsaraan yang telah membatasi rancangan kita.

Teks ini menggambarkan tentang tujuan kesengsaraan sebagaimana topiknya berbicara demikian. Elihu adalah salah satu teman Ayub selain tiga orang (Elifas, Bildad, Zofar) yang telah disebutkan pada pasal sebelumnya. Elihu memang tidak dicamtumkan dari awal kisah Ayub, namun ia baru dicantumkan namanya mulai dari pasal 32-37.

Elihu dalam bacaan ini, secara khusus ia datang menegur Ayub yang merasa dirinya hidup benar dihadapan Tuhan ditengah penderitaan yang ia hadapi. Ayub hanya berfokus pada keluhan-keluhan dengan bertanya pada Tuhan, mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan padahal dia selalu setia dan taat kepadaNya. Akan tetapi Ayub lupa bertanya pada dirinya sendiri dalam cara ia memandang Tuhan di tengah penderitaan yang dihadapi.

Adakah Tuhan dalam hidupnya ataukah ketaatan menjadi aturan, dan rutinitas yang wajib dilakukan. Dari teguran beralih kepada pengakuan akan kebesaran Allah atas seluruh ciptaanNya.

Daripada hanya fokus menempatkan diri pada posisi benar tanpa cela, Elihu justru mengajak Ayub untuk melihat kebesaran Allah dan cara kerja Allah dalam sepanjang penderitaannya. Tanpa mengabaikan kondisi Ayub, Elihu mau merubah cara pandang Ayub akan sosok Tuhan dalam hidup setiap orang, bahkan bagi Ayub.

Ayat 24-25 : Allah adil dalam segala karyaNya

Kata Elihu “ingatlah bahwa engkau harus menjunjung tinggi perbuataNya” Dalam penderitaan yang begitu berat, ini menjadi perenungan bagi Ayub bahwa Tuhan bertindak dengan adil atas hidupnya. Yang dilakukan Allah bukan sesuatu yang mendatangkan keburukan. Secara rasional hal ini tentu tidak menyenangkan dan tidak masuk akal bagi Ayub. Bagaimana mungkin ia ada adalah seorang yang taat, namun penderitaan yang berkepanjangan menimpa hidupnya. Melalui teguran Elihu, dapat dimaknai bahwa mengalami penderitaan tidak menjadi tolak ukur untuk memahami Allah, tetapi menerima penderitaan sebagai bagian dari ukiran tanganTuhan adalah bukti nyata ketaatan yang hidup. Maka dalam penderitaan, kesadaran bahwa ini cara Tuhan menolong Ayub untuk merendahkan diri dihadapan Allah.

Penderitaan bukti nyata keadilan Tuhan dalam membentuk seseorang untuk menjadikannya pribadi yang tangguh, kokoh, pribadi yang siap menerima karya yang lebih besar.

Ayat 26 : Allah itu besar tidak terselami oleh manusia

Sesungguhnya Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita” Elihu menyatakan Allah pencipta segala yang dilihat oleh manusia, sebagai yang tidak terbatas dan tidak terselami. Allah itu besar, agung dalam kuasaNya dan dalam segala karyaNya melampaui akal manusia.

Kebesaran Allah menjadi kekuatan bagi Ayub untuk melihat penderitaan bukan sebagai penolakan tetapi mengandung pesan dari Allah. Penderitaan tidak hanya dilihat dari pengetahuan manusia saja, tetapi yang terutama dari sudut pandang iman. Bahwa dalam penderitaan Allah hadir, menantikan Ayub untuk memberi ruang bagi Allah berbicara.

Penderitaan ada dalam kebesaran Allah dan Ayub tidak perluh membenarkan diri dihadapan Allah hanya untuk memohon Allah mengangkat penderitaannya, Allah dalam kebesaranNya tahu kapan penderitaan setiap orang mengalami pemulihan, dan itu ada diluar pengetahuan manusia.

Aplikasi

Sebagai keluarga Kristen, teguran ini juga sampai kepada kita. Karena itu, Firman Tuhan menasehatkan dalam beberapa refleksi dalam memaknai kemerdekaan dari Allah.

1. Menerima penderitaan sebagai bukti kasih Allah.

Setiap orang percaya nyatanya hidup dalam berbagai-bagai penderitaan. Didalam keluarga mengalami kelelahan secara mental dan fisik, ada dalam tanggung jawab yang berat, mungkin mengalami kesepian dan kebutuhan yang selalu saja tidak tercukupi. Untuk itu, Yesus harus selalu menjadi pusat yang kita pandang tanpa henti dalam kelelahan iman kita oleh karena penderitaan. Mari mengubah cara hidup yang selalu menyalahkan Tuhan dalam penderitaan dengan mengarahkan hidup kita untuk berpaut pada Kristus dalam beratnya penderitaan.

2. Dibalik penderitaan ada keindahan Tuhan yang menanti

Meskipun kita tidak mampu memahami dengan baik, dengan 100% rancangan Tuhan, namun kita dapat menerima bahwa penderitaan adalah atas ijin Tuhan, tentu Tuhan menginginkan kita untuk mengalami rencanaNya yang besar dipersiapkan bagi kita. Sederhana saja ketika seseorang akan diberikan tanggung jawab yang besar tentu harus dipastikan dengan baik segala kesiapannya. Sama halnya juga ketika Tuhan hendak memberikan tanggung jawab bagi kita, Dia akan terlebih dahulu memantapkan iman kita dengan berbagai ujian yang Dia ijinkan.

Untuk itu, dalam pengharapan akan karya-karya Tuhan dijalan hidup kita, mari menantikan dengan terus hidup mengalami Tuhan setiap saat tanpa menjadikannya sebagai rutinitas atau kewajiban semata. Tuhan Berkati, Amin. [*]

Penulis: Vic. Olviana Mere Lende, S.Th.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *