Hidup Sebagai Anak-Anak Terang (1 Tesalonika 5:1-11)

Bayangkan suatu malam, listrik di seluruh lingkungan rumah kita padam. Semua gelap gulita. Tidak ada cahaya dari lampu, tidak dari jalan, tidak juga dari rumah tetangga. Saat itu, kita pasti akan langsung mencari senter atau lilin, bukan? Mengapa? Karena cahaya sangat penting untuk menuntun langkah kita agar tidak tersandung, tersesat, atau celaka.

Sekarang, bayangkan kalau seseorang berkata, “Ah, tidak apa-apa, saya bisa jalan dalam gelap,” lalu berjalan tanpa cahaya. Kemungkinan besar, ia akan menabrak sesuatu, terjatuh, atau bahkan terluka. Namun, orang yang berjaga-jaga, yang sudah menyiapkan cahaya sebelum malam tiba, akan tetap bisa melangkah dengan aman meskipun sekelilingnya gelap.Begitu juga hidup kita sebagai orang percaya. Dunia ini kadang seperti malam —penuh kegelapan, ketidakpastian, dan godaan. Tapi Firman Tuhan berkata bahwa kita adalah anak-anak terang, yang sudah diberi “lampu” berupa iman, kasih, dan pengharapan. Kita dipanggil untuk selalu siap, berjaga-jaga, dan tidak hidup sembarangan.

Dalam 1 Tesalonika 5:1–11, Rasul Paulus melanjutkan pengajarannya mengenai kedatangan Tuhan. Ia menjelaskan bahwa “hari Tuhan” —yaitu saat Kristus datang kembali— akan tiba secara tiba-tiba, seperti pencuri di malam hari. Ini berarti tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktu itu akan datang, dan banyak orang yang merasa aman justru akan dikejutkan oleh saat itu, karena mereka hidup tanpa kesiapan rohani. Paulus memakai gambaran seperti perempuan yang sakit bersalin, yang menunjukkan bahwa kedatangan Tuhan itu tidak bisa ditunda dan pasti akan terjadi.

Namun, kepada orang percaya, Paulus memberikan penghiburan bahwa mereka bukanlah anak-anak kegelapan yang akan tertimpa kebinasaan itu secara tiba-tiba. Kita disebut sebagai “anak-anak terang” dan “anak-anak siang”, yang berarti kita telah menerima terang Kristus dan hidup dalam kebenaran-Nya. Oleh karena itu, Paulus menasihatkan kepada jemaat Tuhan di Tesalonika untuk tidak tidur secara rohani, tetapi untuk berjaga-jaga dan sadar, artinya tetap waspada dalam iman, tidak terbuai oleh godaan dunia, dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan.

Sebagai penutup, Paulus menekankan pentingnya saling menasihati dan membangun satu sama lain. Iman bukanlah perjalanan yang ditempuh sendirian, tetapi harus dijalani dalam persekutuan. Di tengah penantian akan kedatangan Tuhan, keluarga Kristen dan jemaat Tuhan harus saling menguatkan agar tetap teguh dalam terang Kristus.

Bapak, mama, saudara/i yang di kasihi Tuhan kisah kehidupan Paulus dan Jemaat di Tesalonika memberikan motivasi iman bagi kita saat ini untuk hidup dalam terang Kristus, seperti:

1. Hidup Berjaga-jaga dengan Iman, Kasih, dan Pengharapan

Sebagai keluarga Kristen, kita dipanggil untuk hidup dalam kesadaran rohani setiap hari, karena kedatangan Tuhan bisa terjadi kapan saja. Ini berarti kita tidak boleh lalai atau membiarkan kehidupan keluarga dipenuhi oleh kebiasaan yang menjauhkan kita dari Tuhan—seperti pertengkaran yang terus dipelihara, kurangnya waktu untuk doa bersama, atau kehilangan arah dalam mendidik anak-anak.

Sebaliknya, kita perlu mengenakan “baju zirah iman dan kasih” serta “ketopong pengharapan keselamatan”. Dalam praktiknya, ini berarti menjaga hubungan dengan Tuhan melalui ibadah keluarga, saling mendukung dalam kasih, dan terus berharap kepada Tuhan di tengah tantangan hidup. Keluarga yang berjaga-jaga adalah keluarga yang memprioritaskan nilai-nilai kekal, bukan hanya kenyamanan duniawi.

2. Membangun Keluarga sebagai Tempat Saling Menguatkan

Paulus menutup bagian ini dengan perintah untuk saling membangun dan menasihati. Keluarga seharusnya menjadi tempat yang paling aman untuk bertumbuh secara rohani. Ini berarti setiap anggota keluarga—baik suami, istri, maupun anak-anak—belajar untuk saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Dalam masa sulit, keluarga menjadi tempat berpengharapan. Dalam masa senang, keluarga menjadi tempat berbagi syukur. Dengan membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar, rumah tangga kita dapat menjadi gambaran kecil dari terang Kristus di dunia ini.

Sebagai gereja kita juga adalah satu keluarga, yaitu majelis Jemaat dan Jemaat. Sebagai keluarga Allah, kita telah bertumbuh bersama dalam kasih menjadi satu keluarga yaitu GKS Jemaat Praihowar. Hari-hari ini kita sedang mempersiapkan diri menyambut hari ulang tahun berdirinya keluarga besar kita GKS Jemaat Praihowar, tepatnya di tanggal 29 Juni 2025. Sebagai keluarga mari kita hidup dalam satu kesatuan, kita saling menguatkan, jangan kita melepaskan satu saja anggota keluarga kita bekerja. Tapi mari bersama-sama dalam kasih persaudaraan kita bekerja sama, hidup dalam satu kesatuan dan ungkapan syukur kepada Tuhan kita memeriahkan bersama dalam segala talenta dan berkat yang Tuhan anugerahkan bagi kita.

Biarlah rumah tangga kita menjadi tempat di mana terang Kristus bersinar: tempat saling menguatkan, tempat bertumbuh dalam kebenaran, dan tempat yang siap menyambut kedatangan Tuhan kapan pun itu terjadi.

Mari kita terus menyalakan “lampu rohani” dalam kehidupan keluarga kita, agar di tengah dunia yang gelap ini, kita tetap berjalan dalam terang kasih-Nya. Tuhan memberkati setiap keluarga dan memampukan kita hidup setia sampai akhir. Amin. [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *