Tuhan Sungguh Baik (Ulangan 8:2-10)

Jika kita mengatakan seseorang baik, biasanya karena ada sesuatu hal yang telah ia lakukan atau yang ia berikan kepada kita. Entahkah itu dalam bentuk tindakan, kata-kata motivasi atau dalam bentuk barang, dan lain sebagainya. Namun jika, seseorang itu sudah melakukan hal yang keliru, tentu sulit untuk kita bilang dia baik. Justru yang terucap adalah kesalahan-kesalahan lainnya.

Dalam kehidupan kekristenan, kita juga menyadari bahwa kita adalah manusia yang sangat lemah dan terbatas. Menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan ini, tentu kita tidak mampu dengan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Bersyukur Allah yang menciptakan kita tidak meninggalkan kita seorang diri, Allah setia dalam pemeliharaan kasih setiaNya.

Ada banyak hal yang sudah kita lalui. Proses hidup yang tidak selamanya dalam nuansa sukacita, terkadang ada selipan dukacita. Tidak untuk selamanya kita sehat, ada juga selipan rasa sakit yang diderita, bahkan situasi-situasi hidup yang menjadi ujian iman bagi kita, keraguan, kegelisahan, emosi yang tidak stabil, dan masih banyak lagi. Sehingga seringkali tanpa takut kita bertanya, apakah Tuhan ada? Apakah Tuhan masih sayang saya? Tuhan masih peduli sama saya?

Terkadang kita mengatakan kita tidak mampu menjalani kehidupan ini, pergumulan ini sangat berat Tuhan. Tetapi luar biasa sampai detik ini kita masih bertahan dalam sukacita yang melimpah. Inilah kebaikan Tuhan. Ketika lemah kita dikuatkan, ada solusi dalam setiap pergumulan kita.

Ini juga yang boleh dialami oleh bangsa Israel. Pemilihan Allah atas kehidupan bangsa Israel membawa mereka untuk ada dalam proses yang panjang. Empat puluh tahun berada di padang gurun, bukanlah proses yang gampang adanya. Sangka mereka, wah kami bebas, kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak lagi merasakan penderitaan, tidak ada lagi kesakitan.

Tapi rupanya perjalanan mereka dipenuhi dengan tangisan, seruan, bahkan juga mereka tidak segan-segan bersungut-sungut, protes pada Tuhan. Namun rupanya segala yang terjadi ini ada maksud yang mulia:

  1. Menginginkan kesetiaan umatNya. (2-4) Setia ini adalah nilai yang berharga. Integritas yang baik. Tuhan kita pun naturnya adalah setia. Manusia jangankan dalam keadaan tidak baik, keadaan baik saja sekalipun terkadang sulit untuk menjadi setia. Inilah maksud dibalik setiap ujian itu. Agar kita menjadi orang yang berkualitas dalam kesetiaan.
  2. Karena hubungan Bapa dan anak. (5) Orang percaya tidak saja diselamatkan tetapi juga memiliki identitas baru, yaitu menjadi anak-anak Allah. Sebagaimana orang tua mengajari anak yang di kasihinya. Demikian Tuhan pun mengajari kita sebagai anak. Tentu dengan tujuan yang baik. Tuhan tidak pernah merancangkan kehidupan yang gagal, namun damai sejahtera dan hari depan penuh harapan.
  3. Untuk menikmati anugerah Allah. Setelah perjalanan 40 tahun itu, dalam kesetiaan bangsa Israel mereka dibawa masuk ke tanah perjanjian. Tanah yang berlimpah susu dan madu itu. Demikian juga dengan kita. Tuhan menyediakan yang terbaik dan tepat pada waktunya.

Oleh sebab itu, mari kita terus bersandar pada Tuhan, terus mengimani bahwa dalan segala sesuatu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Pergumulan yang hari-hari ini kita alami, menjadi cara Tuhan untuk menyatakan kuasa dan kasih setiaNya.

Untuk ke sekian kalinya, kita mau katakan “Tuhan Yesus tetap baik”. Amin!

Penulis: Vic. Ratna Kristiani Ina, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *