Himpitan masalah seringkali membuat manusia kehilangan akal sehat untuk berpikir, sehingga seringkali manusia mencari jalan keluar dari permasalahan itu hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri dan melupakan Tuhan sebagai pembebas dalam hidup manusia. Demikian juga dengan Israel, yang dalam sejarah perjalanan kehidupan mereka telah banyak mengalami perbuatan ajaib dari Tuhan.
Perikop bacaan kita yaitu Hosea 7:3-16 menunjukkan hal tersebut. Hosea melihat kejahatan seperti perebutan kekuasaan yang berakhir dengan tewasnya sejumlah raja merupakan suatu kejahatan politik, yang bisa dilihat sebagai pemberontakan kepada Allah sekaligus sebagai penghukuman Allah.
Sayangnya, keadaan ini tidak membuat mereka berseru meminta pertolongan Tuhan (7,10). Mengapa? Karena mereka tidak berakal budi dan tolol (11). Kebodohan Israel tampak ketika mereka berkoalisi dengan bangsa-bangsa lain.
Krisis politik yang mereka alami, tidak membuat mereka berbalik mencari Allah dan kehendakNya, tetapi justru mencari pertolongan dari bangsa-bangsa yang sebenarnya akan menghancurkan mereka (9-11).
Mereka lupa bahwa akar segala malapetaka adalah pemberontakan Israel kepada Allah, sehingga usaha apapun yang dilakukan Israel untuk mengatasi berbagai krisis, tidak akan bermanfaat, termasuk meminta bantuan bangsa-bangsa lain. Jalan satu-satunya adalah kembali kepada Allah dan kasihNya yang mula-mula. Hanya dengan itu mereka mampu menghentikan semua kejahatan di berbagai bidang kehidupan termasuk himpitan politik yang mereka alami.
Seringkali masalah datang dalam hidup kita karena ulah kita sendiri. Namun, sayangnya juga ditengah masalah dan tantangan hidup yang datang menghimpit kehidupan ini, kita masih juga tinggi hati dan congkak dengan mengandalkan diri sendiri untuk mengatasi masalah tersebut. Tuhan selalu menjadi pribadi yang kita lupakan bahkan kita seringkali menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup kita.
Mari belajar dari pengalaman hidup bangsa Israel dalam kitab Hosea, kita benar-benar mengoreksi diri kita, sejauh mana kita menempatkan Tuhan untuk berperan dalam hidup ini bahkan dalam rumah tangga kita. Mari kita melihat Allah sebagai satu-satunya yang sanggup menolong kita dari seluruh persoalan dan tantangan hidup. Amin! [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th