Kisah tentang sumur di padang Gerar ribuan tahun yang lalu adalah cermin bagi kita. Didalamnya kita melihat wajah kita sendiri. Wajah Jemaat Praihowar yang sedang berjuang. Kita berjuang melawan tekanan ekonomi, sakit penyakit, dan terlebih melawan dosa perjuangan kita ini adalah misi kristen untuk menghadirkan damai sejahtera di bumi.
Kisah Ishak adalah gambaran pejuang kehidupan iman yang tetap tenang ditengah persoalan. Ishak melibatkan Tuhan dalam segala gumulnya. Ishak menabur di negeri yang ditimpa kelaparan hebat namun anehnya ia menuai seratus kali lipat. Bisa saja dunia pada waktu itu berkata, tanah Gerar itu tanah kutukan, tanah yang tidak akan memberi apa-apa. Tetapi Ishak melihatnya bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai ladang Tuhan yang berlimpah berkat.
Kemiskinan di Gerar bukan karena alamnya yang tidak bersahabat tetapi etos kerja yang suka monoton, menilai dan moral yang selalu melihat orang lain sebagai ancaman yang perlu ditimbun agar tak berkembang. Menimbun sesama dengan dengan cara mematahkan semangat juang. Tanahmu miskin, tanganmu kosong, masa depanmu tertutup dan sederet kata yang mematahkan semangat. Itulah yang dilakukan orang-orang Filistin yang ikut menimbun atau menutup cakrawala iman Ishak dengan kata dan tindakan.
Tetapi kisah Ishak mengajarkan kepada kita, berkat tidak datang dari suburnya tanah, berkat datang dari Tuhan yang menyertai orang yang menabur. Tuhan tidak meminta tanah yang subur untuk memberkati. Ia hanya meminta tangan yang tetap mau menabur. Menabur di bukit Praihowar yang gersang, lahan kosong sekeliling gereja Marumata dan Kandara Latang. Kita terus berjuang di ladang yang kecil, dengan kebun yang gersang, dengan upah yang tidak seberapa, dengan pemeliharaan yang tidak mencukupi kebutuhan.
Menaburlah dengan iman dan perjuangan, Tuhan yang sama yang membuat Ishak kaya di tanah kelaparan, Dia juga yang akan membuat lumbung kita terisi, bukan karena subur, tetapi karena setianya Tuhan. Kemiskinan bisa menutup jalan, tetapi tidak bisa menutup langit diatas.
Perhatikanlah, apa yang ditimbun oleh orang Filistin? Sumur, mata air sumber kehidupan. Penyakit adalah material kotor yang menimbun tubuh kita? Penyakit datang menimbun sumur-sumur sukacita kita. Ia menimbun sumur kekuatan kita, sumur harapan kita, hingga kita merasa kering, retak, dan tak berdaya. Ishak bisa saja berhenti. Ia bisa berkata, untuk apa menggali lagi, toh akan ditimbun lagi. Bukankah itu yang dibisikkan oleh sakit yang berkepanjangan?
Untuk apa berdoa lagi, untuk apa berharap lagi, toh sakit ini tidak pergi juga. Tetapi Ishak menggali lagi. Esek dirampas, ia gali Sitna. Sitna dirampas, ia gali Rehobot. Ia tidak menyembah sumurnya, ia menyembah Tuhan yang memberi air. Sumur boleh berganti nama, boleh dirampas orang, tetapi sumber air hidup itu tidak pernah meninggalkan Ishak.
Jika ada yang terbaring lemah hari ini, kesembuhanmu mungkin bukan Rehobot yang pertama. Mungkin doa-doamu masih bernama Esek, masih penuh pertengkaran dengan rasa sakit. Mungkin air matamu masih bernama Sitna, penuh permusuhan dengan keadaan. Tetapi teruslah menggali dalam doa. Sebab Tuhan kita bukan Tuhan yang kehabisan air. Ia sedang menuntunmu kepada Rehobot-Nya, kepada kelapangan dimana engkau akan berkata, sekarang Tuhan telah memberikan kelegaan kepadaku.
Sakit penyakit boleh menimbun sumurmu, tetapi tidak akan pernah bisa menimbun kasih setia Tuhan. Kita berjuang dan masih terus berjuang melawan ancaman dosa dan perpecahan dalam persekutuan iman. Inilah yang paling pedih. Jika yang menimbun sumur adalah saudara dan sahabat sendiri. Jika Esek dan Sitna itu terjadi di dalam gereja, di dalam rumah tangga, di dalam majelis. Pertengkaran memperebutkan siapa yang paling benar, permusuhan karena siapa yang paling berkuasa.
Orang-orang Gerar merampas sumur Ishak karena iri. Bukankah perpecahan juga seringkali lahir dari iri yang sama? Iri akan berkat orang lain, iri akan pelayanan orang lain, lalu kita mulai menimbun sumur saudara kita dengan batu fitnah, dengan sampah gosip, dengan kotoran kebencian.
Tetapi lihatlah akhir dari Ishak. Ia tidak memenangkan pertengkaran itu dengan adu kuat. Ia memenangkannya dengan memberi kelapangan. Ia pindah, ia mengalah. Dan dengan mengalah itu, ia memberi ruang bagi damai untuk datang. Dan ketika Abimelekh datang, Ishak tidak balas dendam ia mengadakan perjamuan.
Persekutuan iman tidak akan pernah sembuh dengan pengadilan siapa yang salah dan siapa yang benar. Persekutuan hanya akan sembuh dengan perjamuan. Dengan duduk semeja, makan dan minum bersama, mengakui bahwa kita semua hanyalah musafir yang haus di padang gersang, yang sama-sama membutuhkan air dari sumur yang sama, yaitu Kristus.
Jika hari ini kita menjadi Esek bagi saudara kita, berhentilah. Jika kita menjadi Sitna bagi gereja, bertobatlah. Maiwa kita jadi Rehobot. Jadilah pribadi yang ketika orang lain berada di dekatmu, ia merasakan kelapangan, bukan kesesakan.
Jadilah keluarga yang membawa dampak positif dengan kasih, saling tolong dalam perjamuan damai sejahtera yang digelar diatas luka sakit hati dan kekecewaan. Karena pada akhirnya, Abimelekh tidak datang karena Ishak hebat berdebat, ia datang karena ia melihat Tuhan yang menyertai Ishak. Dan itulah kesaksian terbesar bagi kita, yang sakit, yang berbeban berat, yang bergumul dengan dosa. Sabarlah seperti Ishak, karena buah kesabaran adalah berkat. Tuhan ada ditengah-tengah kita GKS Praihowar yang terus bertumbuh. Amin! [*]
Penulis: GI. Ebenhaeser Landuamah