Keluarga Anti Panik di Tengah Godaan dan Tantangan Zaman (Kejadian 6:1-8)

Goncangan gempa Flores dan gempa di perairan Sumba bagian barat yang lalu itu cukup membuat kita panik. Mungkin kita tidak sepanik manusia pada jaman Nuh. Jaman ketika bencana alam memusnahkan umat manusia.

Bencana alam sebagai bentuk penghukuman Tuhan atas kejahatan umat manusia. Coba perhatikan ayat 2. Godaan moral dimana-mana, anak-anak Allah kawin dengan anak manusia sesuka hati. Kekerasan dan hawa nafsu jadi normal. Semua orang ikut arus melakukan kejahatan. Kalau kita perhatikan jaman sekarang ini, sepertinya kita temukan gejala-gejala yang sama dengan jaman Nuh.

Keluarga kita digoda kesenangan semu dunia maya. Judi online, perselingkuhan di medsos, anak-anak digoda pergaulan bebas. Dunia bikin kita panik. “Anak saya nanti bagaimana? Apakah rumah tangga saya kuat, tidak?”

Tapi ditengah kepanikan dunia, ayat 8 muncul seperti pelita. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Kenapa Nuh bisa jadi keluarga anti panik? Ada 3 kuncinya, yaitu:

1. Keluarga yang beda, bukan ikut arus

Semua orang jahat. Nuh memilih hidup benar. Anti panik bukan berarti anti masalah, tapi berani beda. Keluarga kita harus punya prinsip. Kalau semua orang jahat, kita tetap baik. Kalau semua orang cari uang dengan curang, kita tetap jujur. Jangan ikut panik.

2. Keluarga yang dekat dengan Tuhan, bukan dekat dengan kejahatan

Ayat 9 bilang Nuh itu bergaul dengan Allah. Di zaman yang bising, Nuh punya waktu diam dengan Tuhan. Keluarga anti panik adalah keluarga yang masih ada mezbah doa di rumah. Masih ada doa makan bersama, doa tidur bersama.

3. Keluarga yang dapat kasih karunia

Nuh tidak hebat sendiri. Dia dapat kasih karunia. Artinya, Tuhan yang pegang keluarganya. Hari ini, kalau kita rasa keluarga kita sudah panik karena masalah, ingat, kasih karunia Tuhan masih tersedia. Tuhan tidak cari keluarga yang sempurna, Tuhan cari keluarga yang mau kembali kepadaNya.

Dunia zaman Nuh akhirnya dihukum dengan air bah. Tapi satu keluarga selamat. Yaitu keluarga Nuh. Hari ini Tuhan mau ingatkan kita bahwa keluarga kita itu penting, Tuhan butuh keluarga kita yang berani berkata, “Kami mau beda, kami mau dekat dengan Tuhan”. Jadilah keluarga anti panik. Amin. [*]

Penulis: GI. Ebenhaeser Landuamah

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *