Doa (Daniel 9:1-19)

Tentu yang namanya orang Kristen pasti sudah tidak asing dengan istilah Doa. Ada banyak pemahaman mengenai Doa. Ada yang mengatakan bahwa Doa adalah napas hidup orang percaya. Ada juga yang mengatakan bahwa Doa adalah sarana, media untuk berkomunikasi dengan Allah. Kalau punya masalah, mau berkat, mau sembuh, mau solusi doakan saja. Terkadang sesederhana itu pengertian Doa bagi orang Kristen. Bahkan lebih miris lagi ketika ada yang akan berdoa saat tidak capek, saat ada waktu luang, saat sudah begitu terdesak, atau saat sudah berada di titik terendah dalam hidup. Dalam keadaan yang baik-baik seringkali Doa diabaikan. Jadi apa yang kita pahami tentang Doa akan mempengaruhi bagaimana siklus Doa kita dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam anugerahNya.

Saat ini kita belajar bersama-sama dari satu tokoh yaitu Daniel. Daniel adalah seorang muda yang turut dibawa ke Babilonia. Ia juga dikenal sebagai seorang Nabi yang melayani pada masa Raja Nebukadnezar dan raja Media Persia. Daniel sejak awal tiba di istana raja, ia telah mengambil suatu keputusan yakni dengan tidak menajiskan dirinya dengan makanan dan anggur yang biasa dinikmati oleh raja. Selain itu juga, ia adalah seorang yang begitu disiplin dalam hal membangun, serta menjaga hubungannya dengan Allah Melalui jam doa. Dalam pasal 6:11, dikatakan bahwa Daniel berdoa 3 kali sehari, dan ada pujian yang ia naikkan bagi Allah.

Daniel begitu menganggap penting doa itu, juga Daniel menyatakan benar bahwa doa adalah napas hidup orang percaya. Ketika ia berada di Babilonia dalam pembuangan itu, banyak hal yang menjadi tantangan tersendiri bagi Daniel serta kawan-kawannya, juga termasuk bangsa Israel (kerajaan Israel Selatan, Yehuda). Baik itu tantangan dari segi jasmaniah, spritualitas, moralitas, budaya dan sosial. Tentu ini membuat bangsa yang dalam pembuangan bisa mengalami Krisis identitas. Tetapi Daniel seolah memiliki ketenangan, keyakinan yang begitu kuat dalam menghadapi segala situasi yang terjadi.

Betapa doa memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Dalam bacaan kita saat ini, menunjukkan bagaimana integritas Daniel mengenai doa. Ketika Daniel melihat mengapa yang dinubuatkan oleh Nabi Yeremia mengenai pemulihan atas bangsa yang dalam pembuangan, belum ada tanda-tanda akan digenapi? (Bnd 9:2). Luar biasanya Daniel tidak serta merta putus asa, tetapi semakin membangkitkan pengharapan dan keyakinannya pada Allah. Ia kembali berseru dan berdoa, bahkan ditambahkan bahwa Daniel juga berpuasa, serta mengenakan kain kabung dan abu. Betapa ia ada dalam perendahan diri, perenungan serta penyerahan diri sepenuhnya pada Allah.
Dalam doa Daniel, tidak hanya memohon berkat semata tetapi ada kesadaran dan pengakuan yang luar biasa;

  1. Mengakui dosa (9: 3-6). Mengapa? Karena jelas dosa adalah pemisah antara Allah dan manusia, juga membuat seolah-olah Allah tidak mendengar akan seruan umatNya (bnd Yesaya 59:2). Dalam Pengakuan Dosa ini sungguh Daniel menyadari terkadang ia dan seluruh bangsa Israel tidak taat, berlaku fasik, memberontak, bahkan menyimpang dari perintah dan peraturan Allah.
  2. Ada kegentaran (9: 7-8). Rasa malu pada Allah karena Daniel menyadari, Allah sungguh setia ditengah ketidaksetiaan umatNya. Ada rasa takut dan gentar pada Allah yang Maha besar itu. Sesungguhnya Ia tidak layak menghadap Allah, tetapi ia tahu ada pengampunan dan kasih sayang pada Allah bagi setiap orang yang mencariNya.
  3. Pengenalan akan Allah (9: 9-19). Doa juga menjadi moment untuk merenung Allah itu adil, akan membalaskan pada umatNya sesuai dengan perbuatannya. Murka Allah itu tidak main-main. Sehingga semakin dekat, semakin baik hubungan spritualitas dengan Allah, juga akan mempengaruhi seberapa besar manusia akan takut pada Allah.
  4. Semuanya karena anugerah (9: 18-19). Bahkan ketika Daniel masih bisa berdoa itu hanya karena anugerah Allah, dan untuk memohon pemulihan juga Daniel menyadari semuanya akan terjadi sesuai dengan Anugerah Allah sendiri bukan karena jasa baiknya maupun seluruh bangsa Israel.

Bagi kita orang-orang Kristen masa kini, dalam Rumah tangga kita, seberapa penting doa itu?
Apakah hanya saat makan, tidur? Atau apakah hanya sebatas pada saat kita tidak ada tempat pelarian terakhir?

Hendaklah doa itu menjadi napas kita dalam keluarga. Menghadirkan anugerah, damai sejahtera, cinta melalui jam-jam doa kita. Siapkan waktu yang terbaik untuk berkomunikasi dengan Allah Melalui doa, sehingga kita terus disadarkan bahwa kita butuh Tuhan setiap waktu, setiap detik hidup ini. Tantangan tidak akan habis, tetap doa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan kita. Amin! [*]

Penulis: Vik. Ratna Kristiani Ina, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *