Tuhan Cukup Bagiku (Mazmur 73:1-28)

Berbicara tentang kehidupan, tentu semua orang menginginkan kehidupan yang layak, keuangan yang stabil, makan minum yang juga stabil, ekonomi dan pekerjaan yang baik. Tentu semua ini diharapkan dan didoakan oleh setiap orang.

Namun kenyataan yang ada ialah, sepertinya lebih banyak Kesukaran, kesusahan, penderitaan. Padahal kita sudah mendoakan, kita bahkan rajin dan setia dalam mengikut Tuhan, tapi mengapa yang terjadi diluar dari yang kita kira?

Apalagi jika kita melihat orang-orang disekitar kita tidak semuanya adalah orang yang setia dalam mengikut Tuhan, tapi kehidupan mereka jauh lebih baik, lebih sehat. Kita mulai menduga-duga mungkinkah dunia semakin tidak baik-baik saja?

Inilah yang diangkat oleh penulis dalam Mazmur 73, yang merupakan pengalaman imannya bersama Tuhan. Ia melihat kembali seperti yang telah ditegaskan dari Mazmur pasal 1 ada dua tipe manusia. Ada orang fasik dan orang benar.

Orang Fasik ialah mereka yang hidup berdasarkan kekuatan dan pengetahuan sendiri. Mereka yang menomor sekian kan Tuhan dalam hidup. Kesombongan dan kecongkakan ada pada mereka (bnd ayat 6). Tapi meskipun demikian kehidupan mereka kok, terlihat semakin berlimpah dalam segala hal.

Keadaan hidup seperti ini, hampir membuat Penulis jatuh dalam dosa iri hati dan cemburu. Tetapi ia segera menyadari hal penting, saat ia ada dalam tempat Kudus Allah. Ini berbicara tentang persekutuan pribadi dengan Allah dalam Kristus Yesus. Bahwa kehidupan semacam inilah yang menjadi ujian iman. Ia menyadari bahwa ternyata orientasi hidup, harta sesungguhnya adalah ketika ia menjadi Milik Allah (bnd ay 25). Inilah yang menjadi sukacita iman bagi Penulis.

Jika kita melihat dari pergumulan imannya, Penulis adalah keturunan suku Lewi yang memang tidak memiliki milik pusaka, tetapi mereka dipelihara oleh Allah Melalui Persembahan umat, dan juga melihat keakrabannya dengan tempat Kudus Allah. Penulis mau mengajarkan bahwa Tuhan cukup bagiku.

Terkadang dalam kehidupan kita pun, tak jarang kita temui keadaan hidup seperti yang di rasakan oleh penulis. Kita sering bertanya, kenapa Tuhan? Saya yang setia mengikut Tuhan sepertinya tetap ada dalam pergumulan dan penderitaan

Sedangkan yang jauh dari Tuhan, terlihat hidup dalam kelimpahan. Terkadang ada rasa iri dan cemburu, ini adalah hal yang manusiawi. Tetapi melalui bacaan kita saat ini, kita mau belajar:

  1. Harta yang sesungguhnya adalah ketika kita menjadi milik Allah dan Allah berkenan pada kita. Ini mau mengajarkan agar kita mampu berkata, Tuhan cukup bagiku. Asalkan aku tetap dekat pada Allahku, maka aku tetap dipeliharaNya. Ia yang memegang tangan kanan, dengan FirmanNya, Ia menuntun kita dalam menjalani kehidupan ini (bnd ay 23-24). Jaminannya adalah ketika Allah tidak meninggalkan kita, terlebih dalam Pribadi Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit itu, membawa kemenangan iman, sehingga setiap pelayanan dan persekutuan kita dengan Tuhan tidak sia-sia.
  2. Allah adalah hakim yang adil. Allah tidak menutup mata atau tidak melihat kehidupan yang semakin kacau karena dosa manusia. Tetapi ingatlah bahwa atas segala hal yang dilakukan manusia akan membawa manusia pada penghakiman itu. Lalu dilanjutkan dalam ayat 27, ganjaran dari orang-orang fasik adalah kebinasaan. Ingatlah bahwa kita ditebus agar tidak jatuh dalam kebinasaan melainkan agar memperoleh hidup yang kekal. Oleh sebab itu janganlah mengikuti jalan orang fasik. Kebinasaan berbicara tentang penghukuman, penderitaan san kematian yang kekal. Dan bagian dari orang yang tetap setia pada Allah ialah kemuliaan bersama dengan Kristus.
  3. Pergumulan dalam dunia ini, hendaklah menyadarkan kita untuk semakin dekat dengan Allah. Semakin bergairah untuk bersekutu, karena dalam hubungan yang intim itu kita merasakan perlindungan, rasa damai, dan aman (bnd ay 28) Pada akhirnya kita mampu membagikan kesaksian hidup bahwa ditengah kemelut dunia ini, kasih Allah tetap ada dan menyertai.

Bagi setiap kita rumah tangga Kristen, mungkin hari-hari ini kita semakin diperhadapkan dengan situasi hidup yang sulit. Jangan sampai kita menjauh dari pada Tuhan, dengan jalan berzinah meninggalkanNya, biarlah kita semakin meyakini bahwa, asal Allah bersamaku amanlah jalanku.

Juga yang menjadi pengharapan kita ialah, ketika Kristus telah berkorban bagi kita ia menjadi jalan kebenaran, keselamatan, dan kehidupan dan Ia memanggil kita, marilah kepadaku semua yang letih lesu aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Amin! [*]

Penulis: Vik. Ratna Kristiani Ina, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *