Percayalah pada Penyertaan Tuhan dalam masa Penantian (Yesaya 7:10-25)

PENDAHULUAN 

Sejenak kita berenung kembali hari-hari yang telah terlewati dan memasuki masa adven yang pertama hari ini, tentu ada begitu banyak kisah hidup yang terjadi baik dalam hidup keluarga, bergereja dan bermasyarakat. Ada kisah hidup yang sesuai harapan dan ada juga kisah hidup yang tak sesuai harapan.

Lalu, di masa Adven ini kita juga diminta untuk senantiasa berjaga-jaga, berbagi kasih kepada sesama dan selalu menjadi pribadi yang rendah hati dalam menjalin perjumpaan dengan sesama. Semua hal ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan kita pada Tuhan dan tanda kesiapan hati kita tentang hadirnya Sang Raja Damai.

Persoalannya adalah mampukah kita dimasa Adven ini mengambil keputusan yang tepat untuk mempertahankan kesiapan hati kita dengan percaya pada kehendak Tuhan ditengah situasi yang tak sesuai harapan? Pertanyaan ini mengantar kita untuk menemukan fakta yang sering  terjadi bahwa ada dua tipe manusia ketika mengambil keputusan dalam menghadapi masalah:

  1. Percaya pada kehendak Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam pengambilan keputusan.
  2. Mengandalkan kekuatan sendiri dan bersandar pada kekuatan sesama. 

Dengan demikian, kita dapat menentukan pilihan, kita masuk pada tipe yang mana? Dan di minggu Adven yang pertama saat ini, sabda Tuhan tentang nubuat kelahiran Imanuel, kita akan diingatkan tentang kepercayaan penuh kepada Tuhan dan keteguhan iman. 

PENJELASAN TEKS

Pada abad ke-8, kerajaan Asyur sebagai kerajaan adikuasa berambisi hendak menguasai arah barat yang tentunya menjadi ancaman buat kerajaan-kerajaan seperti Aram, Fenesia, Israel dan Yehuda bahkan Mesir. Karena itu, kerajaan Israel utara yang di pimpin oleh Remalya dan kerajaan Aram yang di pimpin oleh Rezin bersekutu untuk melawan Asyur, sedangkan Raja Ahas yang memerintah dikerajaan Yehuda tidak ikut bergabung dalam kelompok tersebut.

Akibat dari Kerajaan Yehuda menolak kerja sama dari Israel Utara dan Aram maka terjadilah permusuhan antara kerajaan Yehuda dengan Israel utara dan Aram. Sehingga, Israel selatan dan Aram bersatu untuk menyerang Raja Ahas dan kerajaannya supaya bisa dikuasai. Lalu, apakah respon Raja Ahas?

Raja Ahas dalam keadaan panik dan takut memutuskan untuk meminta tolong kepada Asyur, sebab Aram dan Israel selatan akan menyerang Kerajaan Yehuda. Karena ketakutan itulah maka Raja Ahas melakukan tindakan yang dianggapnya ‘rasional. Sebagai seorang raja ia harus memikirkan keselamatan bangsanya dan dirinya sendiri.

Ia tidak bisa menunggu lagi karena Aram dan Israel akan menghancurkan Yehuda. Ia harus bertindak cepat, berpikir logis dan minta bantuan kepada Asyur yang  dinilai sebagai tindakan tepat. Kelihatannya disini, Raja Ahas sudah terjebak dengan situasi.

Pada waktu itu, memang tidak gampang, dilain sisi Raja Ahas diteguhkan dengan nubuat Nabi Yesaya supaya Raja Ahas beriman kepada Allah, jangan takut dan tidak perlu meminta bantuan kepada Asyur sebab Allah akan bertindak menolong mereka tapi nubuat Nabi Yesaya tidak merubah keputusan Raja Ahas (Yesaya 7:1-9).  Dalam situasi krisis, bukankah beriman merupakan pilihan paling akhir yang akan diambil oleh seorang yang berpikir logis? Tetapi tidak demikian dengan Raja Ahas. Selanjutnya, apakah Tuhan membiarkan Raja Ahas dan Bangsanya?

Ayat 10-13 ”Tuhan Kemudian melanjutkan firmanNya kepada Ahas melalui nabi Yesaya, bahwa Tuhan akan meneguhkan keturunan Daud, dan untuk meyakinkannya Ahas ditawarkan untuk meminta suatu tanda dari Tuhan, dikatakan kepadanya” mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang diatas”. Hal ini menggambarkan bahwa Tuhan dapat berbuat apa saja kalau dia bisa meminta suatu tanda, sebab kuasa Tuhan tidak terbatas dan hal ini juga menunjukan kesungguhan Tuhan pada perjanjianya untuk meneguhkan keturunan Daud. 

Tapi raja Ahas menolak dengan mengatakan, “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai Tuhan”. Jawaban ini kelihatan rohani, namun dibalik jawaban ini ada suatu ketidakpercayaan kepada Tuhan. Dan jawaban ini juga menggambarkan raja Ahas yang mengeraskan hatinya untuk bertobat dan berbalik kepada Allah. Raja Ahas lebih percaya pada pikirannya sendiri dengan strategi perangnya untuk meminta bantuan kepada Raja Asyur. 

Ayat 14: akibat ketidakpercayaan raja Ahas maka Tuhan sendirilah yang akan memberi tanda kepada raja Ahas. Tanda yang dimaksud adalah seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Imanuel yang berarti Allah beserta kita. Lantas, siapakah perempuan muda yang dimaksudkan di dalam ayatnya yang ke-14?

Perempuan muda dalam bahasa Ibrani ha.’al-ma yang artinya perawan (perempuan yang belum menikah). Penggenapan akhir nubuat ini terjadi dalam kelahiran Yesus Kristus oleh perawan Maria (bnd. Matius 1:22-25). Karena itu, dapat dikatakan bahwa Maria adalah perempuan yang mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang di nubuatkan oleh Nabi Yesaya, sedangkan Yesus yang dilahirkan  adalah Sang Imanuel.

Nubuat ini pada saat itu mungkin tidak dipandang signifikan. Akan tetapi, Yesaya juga berbicara mengenai seorang anak yang nantinya memerintah, yang kekuasaannya memberikan damai sejahtera, keamanan dan keadilan yang tiada berakhir. Jelaslah bahwa “anak” yang akan datang nanti, penuh makna penting. Ia akan duduk diatas tahta Daud, Allah yang Maha Kuasa (bdk. Yesaya 9:6).

Setelah Allah memberikan tanda, maka Allah pun tetap adil dalam putusanNya, sekalipun ada gambaran pengharapan serta kasih, penyertaan dan perlindungan Allah yang akan datang. Namun, Raja Ahas dan bangsanya tetap mendapat konsekuensi dalam mengambil keputusan yang salah.

Ayat 15-25 menggambarkan tentang kehidupan Bangsa Yehuda yang akan berada di zaman yang lebih sukar dan parah, dibawah pemerintahan Asyur dan Mesir. Tuhan memakai gambaran pisau cukur (ayat 20) artinya Tuhan hendak merendahkan kemuliaan Yehuda dan menyerahkan mereka ditangan musuh.

Yehuda tidak dibinasakan secara total, melainkan hanya direndahkan dan masih diberi kesempatan untuk bertobat dan tidak lagi bersandar pada diri sendiri atau bangsa-bangsa lain. Dan sisa orang Yehuda yang tertinggal akan menikmati hidup dalam kemiskinan dan kehidupan yang penuh dengan penderitaan.

APLIKASI

  1. Kita dipanggil oleh Tuhan di dunia ini untuk mempercayakan kehidupan sepenuhnya kepada Tuhan. Tapi dalam kenyataannya kita selalu bersandar pada kekuatan sendiri dan mengandalkan kekuatan sesama. Sehingga kita selalu salah dalam mengambil keputusan. Dan akibat dari bersandar pada keinginan sendiri kita menjadi pribadi yang sulit menerima didikan baik dari Tuhan maupun dari sesama.
  2. Dalam setiap keterbatasan kita, Allah selalu peduli dan tidak pernah meniggalkan kita. Dia selalu memberi tanda supaya kita hidup pada jalan yang benar. Tapi setiap tanda yang diberikan oleh Allah tidak hanya mengarah pada keadaan yang menyenangkan. Justru, dalam masa sulit itulah kita dapat merasakan kasih dan penyertaan Allah yang begitu sempurna. Karena itu, selagi masih ada waktu mari kita membenahi diri untuk hidup dalam pertobatan.
  3. Apa yang dinubuatkan dalam nas ini telah digenapi didalam Yesus Kristus. Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini menjadi tanda yang nyata dan menjadi bagian dari sejarah hidup manusia. Tuhan Yesus adalah tanda yang kelihatan dari kasih dan kebesaran Tuhan dalam dunia untuk menuntun manusia dalam ketakutan dan penderitaannya akibat dosa. Didalam iman kepada Yesus kita akan mendapatkan ketenangan bahwa Tuhan adalah Imanuel, yaitu Allah beserta kita. Tuhan bukan Allah yang jauh dari hidup kita, Dia ada beserta kita dalam suka dan duka.
  4. Di minggu adven yang pertama ini, kita diberi kesempatan untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi masalah hidup. Tuhan kiranya meneguhkan dan memberkati kita. Amin!!

Penyusun: Pdt.Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *