Pada umumnya, jika seseorang diminta untuk mengartikan kata “kelimpahan”, maka yang terbesit dalam pikirannya adalah kata “kelebihan”. Hal tersebut selain karena ditunjang oleh makna yang tertulis didalam kamus, juga karena pola hidup dan perkembangan zaman yang seakan-akan menarik manusia untuk menolak kata “cukup”. Alhasil mucullah standar-standar tertentu untuk mengukur standar kelimpahan, mulai dari yang bersifat materi (seperti finansial, status, derajat) hingga standar yang bersifat non materi (kemampuan berpikir, merasa, berucap, dan lain sebagainya).
Konsekuensi dari tidak tercapainya standar kelimpahan tersebut adalah masuknya seseorang ke dalam golongan tertentu yang tidak pantas, yang tidak berarti, yang tidak cukup, yang tidak bisa, yang berbeda. Jika ditanyakan kepadamu, apakah yang menjadi kelimpahanmu saat ini? Dalam hal apa anda merasa berlimpah? Atau yang lebih mendasar lagi, sudahkah anda merasa berlimpah? Sudahkah anda melihat orang lain sebagai dia yang mempunyai kelimpahan?
Penulis Injil Matius memperlihatkan sosok Yesus sebagai Dia yang berlimpah dengan segala kasih, hikmat, dan pengetahuan. Dalam kelimpahan itu, “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35).
Pada zaman itu, tidak banyak orang yang dapat melakukan hal-hal yang dilakukan Yesus sehingga Dia dianggap spesial dan diagungkan. Padahal, jika dilihat dari status dan derajat-Nya, Yesus masih termasuk dalam golongan orang yang sederhana, seorang yahudi, anak tukang kayu.
Belas kasih Yesus dan kuasaNya, mujizat dan berkat bagi yang percaya menjadi nyata. Dalam perjalanan-Nya, Yesus tidak menjalankan misi seorang diri, tetapi Dia mengutus murid-murid-Nya, menjalankan misi sesuai karunia yang telah dilimpahkan-Nya, mengajar dan menyampaikan injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, mengusir setan (Mat 10:7a). Yesus mengutus pekerja-pekerja untuk melakukan tuaian milik Allah dalam wujud belas kasih, yaitu menghadirkan mujizat dan berkat.
Keberadaan gereja di dunia bertujuan agar kerajaan Allah hadir di dunia ini melalui gereja-Nya. Tujuan ini akan tercapai apabila gereja tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga menghidupi lingkungan sekitar dimana ia berada. Gereja bukan hanya tentang gedung dan bangunan fisiknya namun esensi gereja adalah persekutuan orang beriman sebagai tubuh Kristus yang hidup dalam belas kasih.
Yesus mengasihi bukan semata karna kelimpahanNya melainkan hati yang tergerak oleh belas kasihan melakukan pekerjaan BapaNya. Karunia yang sama juga dilimpahkan kepada kita sebagai murid Yesus dimasa kini. Berbagai masalah yang seringkali menjadi penghalang bagi kita untuk menjalankan misi Allah adalah karena kita masih diselubungi dengan standar yang kita ciptakan sendiri ataupun terpengaruh oleh struktur sosial di masyarakat secara umum.
Jika tidak mempunyai uang, maka tidak bisa membantu orang lain; jika tidak mempunyai gelar yang tinggi, maka dilarang berbicara; jika tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap/cacat/penyandang disabilitas, maka tidak diberikan kesempatan untuk berkarya.
Masing-masing orang dilimpahi kasih karunia yang sama oleh Tuhan, yang dalam praktiknya diwujudkan dalam bentuk yang berbeda. Maksud dari semuanya itu adalah supaya setiap orang saling melengkapi satu dengan yang lainnya, dan supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri sebab segala kemegahan berasal dari Allah (1 Kor 3:21).
Selain itu, masalah lainnya adalah berkembangnya ego seseorang untuk lebih mementingkan diri sendiri, mengejar kelimpahan tanpa mau membagikannya kepada orang lain.
Yesus melalui Injil Matius juga mengingatkan kita untuk tidak bersikap egois dengan kelimpahan yang kita miliki karena, “kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8).
Ada pepatah yang mengatakan, “jika seorang guru tidak ingin muridnya lebih pintar dari dirinya, maka dia bukanlah guru sejati”.
Jika seorang memiliki pengetahuan yang lebih, maka hendaklah dia mengajarkannya kepada orang lain sehingga mereka memperoleh pengetahuan yang cukup.
Jika seseorang mempunyai makanan yang lebih, hendaklah dia membagikannya kepada mereka yang kelaparan sehingga mereka memperoleh asupan yang cukup.
Jika seseorang mempunyai hak untuk berkarya, maka berikanlah juga hak yang sama kepada orang lain sehingga mereka mendapatkan ruang untuk berekspresi.
Ketika anda memberikan apa yang lebih daripadamu, maka anda tidak akan berkekurangan melainkan menjadi cukup seperti yang diajarkannya kepada kita, “cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Dalam segala kecukupan, kita menjadi berlimpah sebab kelimpahan itu kita bagikan juga kepada orang lain dan mereka menjadi cukup. Kita menjadi cukup bukan hanya karena kita sudah bisa membagikan sesuatu kepada orang lain. Kita menjadi cukup karena kita sudah terlebih dahulu dilimpahi Allah dengan kasih dan karunia-Nya.
Landasan karya Yesus adalah belas kasihan terhadap mereka yang lelah dan terlantar seperti domba. Maka Yesus mengajak saya dan saudara-saudara semua yang sudah mengalami belas kasih dan kuasaNya agar menjadi saluran berkat kepada sesama kita. Bukan semata karena kelebihan melainkan kasih yang menggerakkan. Maukah kita menjadi pekerja-pekerja untuk tuaian milik Allah? Tuhan memberkati kita. Amin!
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th