Berubah Menjadi Lebih Baik (Lukas 19:1-10)

Berbicara tentang kata “berubah” kira-kira apakah yang dapat kita pahami dari kata ini? Menurut buku KBBI berubah berarti: menjadi lain (berbeda) dari semula, bertukar (beralih) menjadi sesuatu yang lain, atau berganti (pikiran, keputusan, arah dan sebagainya). Jadi sederhananya dapat dikatakan berubah berarti menjadi lain atau berbeda dari keadaan semula. Dan harapan kita sebagai orang percaya, tentu perubahan/berubahnya pikiran dan sikap seseorang itu haruslah kearah atau hal yang positif dan bukan sebaliknya. Itu harus selalu dimulai dengan sebuah perjumpaan pada sesuatu hal yang baik, benar dan mengubahkan.  

Adalah seorang kepala pemungut cukai bernama Zakheus (Ayat 2). Nama Zakheus sendiri berasal dari bahasa Yunani Ζακχαῖος, “Zakkhaios”; bahasa Ibrani: זכי‎, zaki, “yang murni dan saleh”; bahasa Aram: Tasai; bahasa Inggris: Zacchaeus. Ia adalah seorang yang hidup pada abad pertama masehi dan disebut dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Namun sekalipun arti namanya: “yang murni dan saleh” atau dapat juga disebut tulus, bersih, suci. Namun sayang, kehidupannya sangat bertolak belakang dengan perkataan dan perilakunya (tidak ada ketulusan, kesucian, dan integritas). Bahkan sangat dibenci atau dianggap sebagai penghianat saudara sebangsanya (Yahudi). Mengapa? Sebab ia mempekerjakan dirinya pada bangsa penjajah, yaitu orang Romawi walau harus dengan memeras atau mengambil apa yang tidak seharusnya.

Sebagai bangsa adikuasa (superpower) yang sangat berjaya pada masanya, Romawi perlu membiayai berbagai fasilitas umum yang mereka miliki, diantaranya bangunan Aquaduk bertingkat dua (tingkat atas sebagai wadah air dan bawahnya jebakan) juga berbagai bangunan (Kolesium atau arena Gladiator tempat pertandingan tau lomba yang berupah dan juga digunakan sebagai tempat hiburan rakyat saat para tawanan atau budak-budak diadu berkelahi). Belum lagi pembuatan jalan raya oleh kaisar Gayus semakin menambah banyaknya biaya perawatan (sebuah jalan raya unik karena satu jalan tersambung satu dengan lainnya dan kemanapun orang berjalan ujung-ujungnya akan selalu Kembali ke Roma, itulah mengapa ada kalimat ada banyak jalan menuju Roma”) semuanya demi PAX ROMANA (Frasa Latin berarti “Damai Romawi”).  Ini butuh biaya yang tidak sedikit.

Jika demikian bagaimana cara membiayai semua fasilitas umum ini? muncullah wajib pajak. Siapa sajakah yang wajib bayar pajak? Tentu bukan masyarakat Roma (bebas pajak)? Lalu siapa? Semua bangsa jajahan pemerintah Romawi (yang kala itu hampir semua dunia Barat dan Timur: senada dengan waktu pelaksanaan sensus saat Yesus mau lahir, dikatakan: “Kaisar Agustus melakukan sensus diseluruh dunia” karena memang kekuasaannya hamper seluruh dunia saat itu) tanpa kecuali bangsa Yahudi. 

Karena itu ada dua jenis pajak yang harus dibayar:

  1. Pajak kepala (TRIBUTUM KAPITIS) berupa pajak tahunan bagi semua laki-laki dan perempuan  yang berusia 12 tahun kebawah dan orang dibawah 65 tahun
  2. Pajak tanah (TRIBUTIM  SOLI) adalah pajak yang ditarik berdasarkan kualitas lahan dengan sistim presentasi misalnya 1/10 atau 1/12 persen dari hasil panen. Tentu ini pajak yang cukup mencekik sebab selain beban wajib pajak, orang Israel juga wajib membayar pajak ke Yerusalem tiap tahunnya untuk pemeliharaan bait suci. 

Nah, bayangkan jika kewajiban bayar pajak ini berjalan lancar (sesuai ketentuan). Dapat dibayangkan berapa banyak uang yang akan diterima pihak Roma? Banyak sekali. Namun menyangkut wilayah jajahan Roma sangat luas maka sangat sulit untuk selalu menjemputnya tiap-tiap waktu (belum ada transportasi yang memadai). Karena itu pemerintah pusat Romawi memberi kuasa pada penguasa lokal dengan menepatkan para gubernur atau procurator (saat itu Pontius Pilatus). Selanjutnya bekerjsama dengan raja wilayah (raja Herodes) yang berkuasa atas tanah orang Yahudi tapi  bertanggung jawab pada Roma. Lalu selanjutnya diberikan tanggug jawab pada pemimpin lokal (Zakheus). Jadi sebagai pemimpin lokal ia bukan pemungut cukai biasa sebab ia membawahi banyak pemungut cukai lainnya. Lalu dimana letak kesalahan Zakheus? 

Dari kebijakan kuasa inilah yang membuka kemungkinan kejahatan bagi pemimpin lokal untuk menarik keuntungan yang sebesar-besarnya. Katakan, jika pemerintah Roma mewajibkan target setoran 80% maka Zakheus akan menambah jumlah nominal menjadi 100% (80% diberikan pada pemerintah Roma dan yang 20% ditahannya, bayangkan keuntungan hariannya) maka pantas jika kekayaannya melimpah dan ia sangat dibenci orang sebangsanya.  

Namun dalam sebuah perjumpaan pribadi, Zakheus mengalami perubahan bukan hanya soal paradigma dalam kepalanya tetapi juga sebuah “perubahan sikap” secara total. Bahwa yang selama ini ia anggap sumber kebahagiaan utamanya rupanya tidak dapat menjawab rasa kosong/hampa dalam hidupnya sehingga membuat ia merasa perlu untuk melihat ‘seperti apakah Yesus itu?” dan “kalau-kalau ia pun bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti pendosa lainnya (perempuan pezinah dan pemungut cukai lainnya) seperti yang mungkin pernah ia dengar”. Namun mudahkah itu? Postur tubuh yang pendek dan kerumunan banyak orang yang mengelilingi Yesus telah menjadi penghalang utamanya. Apakah ia menyerah? Pohon Ara pun dinaikinya walau itu dapat mempermalukannya, bahkan ketika bully orang yang berkata : “Yesus makan dirumah orang berdosa” (ia sadar akan hal ini_ayat 7) juga tak dipedulikannya. Sebab ia hanya mau mendengar apa yang dikatakan Yesus saat melawat-Nya : “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Ayat 19).  

Dan luarbiasa dalam ruang perjumpaan yang penuh penerimaan itu, Zakheus beroleh hidup baru. Dan bukti tanda syukur atas lawatan dan berkat yang diterima, Zakheus ‘melepaskan” (Ayat 18) apa yang bukan miliknya. Untuk menerima yang lebih besar, yaitu ‘keselamatan’ yang nyata tidak hanya bagi Zakheus namun seisi rumahnya (hamba/budak yang melayaninya). Perjumpaan bersama Yesus, yang mengubahkannya (lama menjadi baru) langsung menunjukkan tanda-tanda syukurnya (jadi keselamatan yang Zakheus terima bukan karena perbuatan baiknya, perbuatan baik yang dinyatakannya adalah sebagai tanda syukur dari hidup barunya/ respon keselamatan yang telah ia terima, Efesus 2:8-9). Dan tentu saja ini dapat terjadi, ketika Zakheus mau dan bersedia untuk dibaharui Kristus, sehingga nampak perubahan baru (Zakheus membagikan kembali 4 x lipat dari apa yang telah diperasnya dan sisanya yang setengah  dibagikan pada orang miskin). Jadi dalam pertobatan sejati sesungguhnya tidak hanya akan soal ‘saya’ yang diselamatkan tapi juga ada dimensi komunal akan sesama yang perlu dirawat hidupnya/turut diselamatkan (orang miskin jadi masuk dalam hidup Zakheus atau berdampak pada kehidupan orang sekitar).

Ingat lagu ASM “Apa yang dicari orang? Uang!”. Uang penting dan berguna namun harus dibarengi dengan kewaspadaan. Sebab jangan sampai itu semualah yang selama ini telah menghambat kita untuk datang bahkan lebih dekat dengan Tuhan. Kekayaan yang kita miliki tidak bisa  menyogok Anugerah keselamatan dari Yesus. Lihat jelas Zakheus gambaran hidupnya menunjukkan pada kita bahwa “kekayaan bukan jaminan sukacita” (sukacita Zakheus justru nyata setelah berjumpa dengan Yesus). Jadi kekayaan bukan jawaban kebahagiaan dan sukacita yang sesungguhnya. 

Berdasarkan kebenaran sabda Tuhan 3 pokok refleksi kita :

  1. Apa yang sedang engkau perjuangkan mati matian hari ini bersama keluargamu? Kepintaran anak-anak dalam dunia Pendidikan, pekerjaan yang sukses dengan hasil yang maksimal atau apa? Semua baik tapi tanpa perjumpaan pribadi dengan Yesus dan berdampak dalam perubahan kearah lebih baik sama sekali tidak berguna. Sebab kekayaan, kejayaan, dan kehormatan pada akhirnya tidak akan memberikan jaminan tumpuan sukacita kita.
  2. “Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang? Uang bisa membeli rumah tapi INGAT BAIK : uang tidak bisa membeli keluarga . Uang bisa membeli tempat tidur tapi bukan tidur yang nyenyak, Uang bisa membeli jam dinding tapi tidak bisa membeli waktu,  Uang bisa beli buku tapi tidak pengetahuan, Uang bisa bisa beli makanan tapi  bukan rasa, Uang bisa beli kedudukan tapi bukan kehormatan, Uang bisa beli darah tapi bukan kehidupan,  Uang bisa beli obat tapi tidak Kesehatan, Uang bisa beli  asuransi tapi bukan keselamatan, Uang bisa beli Alkitab tapi bukan iman, Uang bisa beli keindahan tapi bukan masa depan. Karena itu jangan gegabah karena kekayaan ada batasnya. Jangan biarkan uang, kekayaan atau keinginan cari uang sampai menghalalkan berbagai cara menghalangi kita untuk datang pada Yesus. Zakheus mau buka hati atas karya Roh Kudus sehingga hartanya tak dapat lagi menghalanginya datang pada Yesus. 
  3. Melakukan tugas dalam rangka menunjang berbagai kebaikan hidup bersama sebenarnya bukan dosa namun yang menjadi dosa apabila kita menagih/ mengambil apa yang bukan milik/hak kita (jangan menagih yang bukan hakmu). Jadi dalam gereja, pemerintahan dan hidup kerja lainnya jangan coba-coba mengambil apa yang bukan punya kita. Sebab jika kita mendapatkan hasil yang melawan firman Tuhan maka kita tidak ada bedanya dengan Zakheus. 

Kita memang telah Kristen sejak kecil bahkan boleh dikata Kristen memang sejak dalam kandungan tapi apakah kita sendiri sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus dan itu telah sungguh mengubahkan kita? Refleksikan hidupmu.Tuhan mampukan. Amin.[*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *