Injil Kristus Ada dalam Kehidupanku (Matius 10:24-42)

Perenungan  ini merupakan kelanjutan dari pengutusan keduabelas murid Tuhan Yesus yang berlanjut dengan nasehat dan pesan-pesan pengutusanNya (Mat. 10). Untuk mengerti ucapan-ucapan Tuhan Yesus memang kita harus berhati-hati memahaminya, karena jika tidak kita akan jatuh pada pemahaman yang salah akan maksud Tuhan Yesus. Secara umum kita dapat memperhatikan setiap ucapan Tuhan Yesus adalah suatu pengutusan untuk memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat (Mat. 10: 7).

Dalam pengutusan itu, Tuhan Yesus mengingatkan agar mereka waspada sebab dalam pengutusan itu ada banyak tantangan dari dunia ini. Namun demikian, seberat apapun tantangan yang mereka terima untuk memberitakan Injil kerajaan sorga, Tuhan memberikan mereka jaminan keselamatan dan kekuatan.

Satu yang pasti bahwa pengutusan ini bukanlah dari manusia, tetapi pengutusan ini adalah dari Bapa yang disorga, sehingga mereka akan dimampukan dalam memberitakan berita keselamatan dari Allah. Ada beberapa jaminan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus supaya mereka berani dan semangat dalam pengutusan yang mereka terima, yaitu:

1. Penderitaan yang mungkin akan mereka alami tidak akan melebihi dari apa yang telah diterima Tuhan Yesus di dunia ini.

Dalam ayat 24-25 Tuhan Yesus telah menggambarkan: “Seorang murid tidak lebih dari gurunya”, “Seorang hamba dari pada tuannya” ataupun “Tuan rumah dan seisi rumah” sebagai hubungan DiriNya dengan murid-muridNya. Kalaupun mereka harus menerima penolakan dan penganiayaan tidak akan melebihi dari apa yang telah diterima Tuhan Yesus.

2. Jaminan kehidupan

Mengenai keselamatan Tuhan Yesus pastikan bahwa keselamatan hidup mereka akan dijamin Allah. Sebab yang memanggil dan yang mengutus mereka adalah Allah. Apapun yang ada di dunia ini semuanya adalah sepengetahuan Allah, sampai “rambut dikepala” Tuhan mengetahuinya. Tuhan memastikan pemeliharaan kehidupan murid-muridNya.

3. Penderitaan yang mungkin akan mereka terima tidak akan dapat dibandingkan dengan hukuman bagi mereka yang menolak kesaksian mereka.

Tuhan mengingatkan kembali untuk jangan takut kepada yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa (ay.28), sebab hanya Allah sajalah yang berkuasa membunuh jiwa dan tubuh. Oleh sebab itu, kalaupun mereka akan menerima suatu penganiayaan, mereka harus menyadari bahwa itu tidak akan sebanding dengan yang akan mereka dapatkan yaitu hukuman dari Allah yang akan membunuh baik tubuh maupun jiwa mereka.

Panggilan ini bukan hanya kepada keduabelas murid Yesus, tetapi kepada kita juga orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan memanggil kita untuk memberitakan kabar sukacita dari Tuhan sebagai mana kita adalah tubuh Kristus.

Dalam kehidupan kita sebagai orang kristen tidak jarang kita akan menghadapi tantangan mulai dari hal-hal diskriminasi sampai kepada perlakuan kasar dari orang-orang yang tidak menginginkan keberadaan kita. Namun demikian ada hal yang harus kita ingat bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan untuk membenci mereka, namun kita juga jangan jadi takut, sehingga kita tidak terjerumus dalam sikap fanatik yang picik dengan mengabaikan amanat agung Tuhan Yesus yaitu kasih dan pengampunan.

Melalui nas ini, Tuhan menggugah komitmen kita sebagai pengikutNya, bagaimana kasih kita kepada Allah? Apakah kasih kita kepadaNya sudah seutuhnya? Apakah kita telah menempatkan Tuhan diatas dari segalanya? Sebab bagaimana kita mampu untuk memberitakan Injil Kristus dalam kehidupan kita jika belum mampu menguasai diri sendiri atas godaan-godaan kehidupan ini.

Sebab itu, sebelum kita menghadapi tantangan dari luar kita harus mampu memenangkan tantangan dari diri sendiri untuk mengalahkan keinginan daging. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 38).

Sehingga “pedang” yang dibawa oleh Kristus harus jelas dalam hidup kita untuk mampu memisahkan diri kita akan keinginan daging. Sehingga komitmen kita mengikut Yesus itu harus jelas! Apakah kita berani mengakui Yesus di depan manusia? 

Mengaku tidak hanya kata, tetapi lebih dari itu adalah mengakui Yesus dalam perbuatan dan tindakan kita. Bagaimana kita berani menyatakan kebenaran ditengah-tengah hidup yang tidak benar; bagaimana menyatakan kasih ditengah-tengah kebencian; bagaimana kita berani menyatakan teguran dalam situasi yang salah; bagaimana kita menyatakan belas kasih di tengah-tengah hidup yang membutuhkan uluran tangan kita; bagaimana kita mampu untuk memaafkan orang yang menyakiti kita; bagaimana kita mampu menyatakan iman kita ketika kita digoda untuk menyangkal iman.

Disinilah Injil Kristus kita beritakan. Maka marilah menjadikan kehidupan kita sebagai berita Injil Kristus yang nyata dan dapat dilihat semua orang. Tuhan Yesus memberkati.[*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *