Hal Memberi Persembahan dan Persembahan yang Layak (Kejadian 4:1-16)

Bapak/Ibu yang diberkati Tuhan…

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bersifat spiritual. Artinya bahwa manusia mampu menanggapi hal-hal secara rohani dan berusaha untuk memiliki hubungan dengan Yang Ilahi. Ketergantungan itulah yang menghantar manusia selalu rindu untuk menerima dan memberi kepada Allah. Setiap orang punya kerinduan yang sama yaitu apapun yang dikerjakan (entah itu ibadah, pelayanan) bahkan juga persembahan yang di bawa kepada Tuhan, harus sesuai dengan kehendak Tuhan bahkan layak diterima oleh Tuhan. Dan tidak ada seorang pun yang mengharapkan persembahannya (waktu, tenaga, pikiran bahkan materi) yang diberikan kepada Tuhan, menjadi sia-sia, ditolak dan diabaikan oleh Tuhan.

Kain dan habel adalah contoh nyata sikap manusia dalam mempersembahkan persembahan yang diperoleh dari Tuhan. Sejarah munculnya istilah “persembahan” dimulai ketika “kain dan habel” mempersembahkan persembahannya kepada Allah. Kedua kakak beradik ini, melakukan pekerjaan yang berbeda. Kain menjadi petani dimana ia mengerjakan tanah, sedangkan habel adalah gembala. Pada suatu peristiwa, keduanya membawa hasil dari pekerjaannya masing-masing untuk dipersembahkan sebagai persembahan kepada Allah. Kain membawa hasil pekerjaannya yakni hasil bumi, sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya. Pada akhirnya, Allah tidak berkenan kepada kain dan persembahannya, tetapi Habel persembahannya diterima oleh Allah. Dimana letak persolannya? Sebenarnya letak persoalannya bukan antara hasil : tanah dan domba, namun.. pada keadaan batin kedua bersaudara ini. Habel mempersembahkan hasil ternaknya dengan penuh iman, sedangkan Kain tidak… Dalam Ibrani 11 : 4, Kita mendapati bahwa karena iman, Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih  baik daripada persembahan kain. Adapun pertanda yang dapat dipahami bahwa persembahan habel diterima sedangkan persembahan kain tidak adalah korban Habel asapnya membumbung ke atas sedangkan persembahan kain asapnya tidak naik.  

Bapa/ibu yang diberkati oleh Tuhan…

Semua kita sebagai orang beriman, tidak ada yang tidak pernah mempersembahkan persembahannya kepada Tuhan. Semua kita, pasti pernah memberi untuk Tuhan. Dan kita selalu mengimani bahwa persembahan yang kita berikan kepada Tuhan adalah wujud ungkapan syukur kita kepada Tuhan atas semua hal yang telah diberikan Tuhan pada kita. Pertanyaannya…. layak atau tidaknya suatu persembahan, sebenarnya dinilai dari apa? Dari orangnya, jabatannya, kaum keluarganya, nilai rupiahnya?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa:

  1. Persembahan yang layak adalah persembahan yang tidak hanya berupa : hal-hal materi tetapi juga hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah… banyak orang yang kadang salah memahami tentang persembahan. Banyak yang berfikir bahwa ketika ia memberi dari kelebihannya, uang yang ia berikan kepada Tuhan (bahkan ketika namanya tidak dibacakan dengan nilai rupiah sesuai dengan pemberiaannya), waktu dan tenaganya untuk melakukan pelayanan Tuhan (walaupun pelayanannya timbul tenggelam).. hal-hal itulah yang disebut sebagai persembahan yang sempurna kepada Allah… kita harus ingat bahwa persembahan yang kita berikan hanya akan menjadi layak ketika semuanya berangkat dari hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah… jangan iri hati.. dengan apa yang tidak mampu kita beri kepada Allah ketika orang lain mampu… berilah dari apa yang ada pada kita, bukan yang tidak ada pada kita, lalu membuat kita mencuri (melakukan pekerjaan yang salah) dan mempersembahkannya kepada Tuhan. 
  2. Persembahan yang layak adalah persembahan yang keluar dari iman yang tulus kepada Allah. 

Apalah artinya persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, jikalau kita masih hitung-hitungan dengan Tuhan. Kalau saya kasih ini, besok saya mau makan apa? Kesalahan terbesar kain adalah ketika persembahan yang ia persembahkan tidak dari iman yang tulus. Mau kasih yang kelihatannya terbaik sekalipun, tetapi ketika didalam hati masih tarik ulur, tidak sepenuh hati, sungut-sungut.. apalagi membandingkan persembahan kita dengan orang lain.. dan menganggap persembahan kitalah yang paling sempurna dan orang lain tidak ada apa-apanya… yakinlah bahwa persembahanmu hanya akan menjadi sia-sia dihadapan Tuhan.

Bapa/ibu yang diberkati oleh Tuhan… 

Tidak ada dari antara kita yang sanggup memberi atau mempersembahkan apapun itu, ketika Tuhan meminta dari kita.. entah itu harta kekayaan, ketenaran, jabatan bahkan hidup kita sendiri.. karena sejatinya, semuanya itu adalah dari Allah. oleh karena itu, yang diinginkan Allah dari kita adalah bagaimana seharusnya hidup ini harus menjadi persembahan yang sempurna yang kudus dan berkenan kepada-Nya. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.[*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *