Tinggal Bersama Allah dalam FirmanNya (Keluaran 24:12-18)

Pengantar

Perjalanan Umat Israel dari Mesir ke tanah perjanjian menyimpan banyak cerita. Kitab Keluaran yang paling sering kita baca dan kita renungkan adalah kisah penderitaan. Pasal pertama langsung bercerita tentang suasana penindasan di Mesir. Kisah Israel yang menderita menjadi model untuk membangun iman umat masa kini.

Bahwa perjalanan Israel atau pengembaraannya di padang gurun sebelum sampai ke tanah Kanaan memang menuai banyak penderitaan tetapi pada saat yang sama Tuhan tidak tinggal diam. Penderitaan kerap dialami dalam perjalanan pengembaraan itu tetapi pada saat yang sama tangan Tuhan yang kokoh dan kuat itu menolong mereka keluar dari berbagai kesulitan selama perjalanan itu.

Tafsiran

Teks keluaran 24:12-18 menceritakan permintaan Tuhan Allah kepada Musa dan Yosua naik ke atas gunung Sinai untuk menerima Loh Batu yang berisi hukum dan perintah bagi Umat Israel. Kalau kita membaca dengan baik teks ini, ternyata teks berakhir tanpa kita mendapatkan informasi apakah Musa dan Yosua kembali membawa Loh Batu yang dijanjikan Tuhan atau tidak. Teks berakhir pada ayat 18 dimana Tuhan Allah menjumpai Musa dalam awan yang tebal. Ia bahkan tinggal empat puluh hari empat puluh malam di atas gunung. Justru Loh Batu baru diberikan oleh Tuhan di pasal 31.

Umat diminta untuk menunggu sedangkan Musa dan Yosua naik ke puncak gunung. Meninggalkan umat dalam kondisi yang kurang kondusif bukan tanpa resiko. Di pasal-pasal berikutnya, ternyata ketika Musa kembali dari gunung justru umat telah menyimpang dari hadapan Tuhan. “Seluruh bangsa menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun dan dibuatnya anak lembu tuangan (32:3-4).

Rupanya meninggalkan umat 40 hari 40 malam bukan waktu yang pendek untuk tetap bertahan dalam iman dan pengharapan menghadapi situasi sulit dan penderitaan karena perjalanan yang belum tahu ujungnya. Musa belum turun dari gunung sinai tetapi Tuhan Allah sudah tahu persis apa yang dilakukan oleh Umat di bawah sana. “Pergilah, turunlah sebab bangsamu yang engkau pimpin dari tanah Mesir telah rusak lakunya (32:7)”.

Empatpuluh hari Musa bersama Tuhan dan masuk ke dalam kemuliaan Tuhan di atas gunung Sinai dan selama itu umat tidak bertahan untuk menunggu. Durasi 40 hari itu terlalu lama bagi umat untuk bertahan dalam iman kepada Tuhan. Ketidaksabaran Umat menunggu kembalinya Musa bukan saja mencederai iman mereka tetapi sekaligus mengingkari akan pengakuan bahwa Tuhan Allahlah yang membawa mereka keluar dari Mesir dan akan terus membawa mereka masuk ke Tanah Kanaan, tanah perjanjian.

Jika melihat dalam konteks Perjanjian Baru (Markus 9:2,3), kehadiran Musa dan Elia yang diakui sebagai tokoh besar yang dijunjung dan dihormati, pada saat Yesus dimuliakan dapat juga dibaca sebagai simbolisasi baru kepemimpinan di dalam Israel. Musa dan Elia telah tiada. Mereka meninggalkan kesan kepemimpinan yang kuat atas Israel. Sekarang, model kepemimpinan itu mendapat format baru di dalam Yesus.

Di dalam Yesus, Israel dituntun menuju masa depan kehidupan yang menyelamatkan. Yesus bukan saja wakil Allah yng memimpin Israel tetapi Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia bahkan menjadi seorang pemimpin yang menderita. Musa marah kepada Israel yang menyimpang dari imannya ketika ia berada di atas gunung sinai. Kemarahannya diluapkan dengan melempar dua loh batu sampai hancur ke tanah. Berbeda dengan Yesus, Yesus menghadapi umat yang ingkar imannya dengan memberi diri dan menderita. Menanggung semua hukuman yang mesti ditanggung oleh umat karena dosa mereka.

Implikasi

Iman kristiani terbuka terhadap penderitaan. Penderitaan tidak disangkal atau dihindari tetapi selalu dihadapi. Bahkan kehidupan iman mengalami pertumbuhan kalau ada pengalaman hidup penderitaan. Melaluinya orang Kristen belajar hidup dekat kepada Allah. Selalu ada hikmat yang kita petik dari jalan hidup bergelimang penderitaan.

Kehidupan ini perlu tuntunan. Orang Kristen hidup dalam tuntunan Allah. Yang perlu kita dalami adalah bahwa Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti kanak-kanak. Pada saat tertentu mungkin ada perasaan manusia dibiarkan berjalan sendiri seolah-olah Tuhan menjauh. Justru pada saat seperti itulah Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk bertumbuh dan beranjak dewasa. Karena itu, tetaplah teguh dalam iman bahwa Tuhan selalu memimpin jalan hidupmu apapun situasinya, jangan ingkar! Amin. [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *