Kasih dan Satia Allah (Zakharia 12:10-14)

Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu ada timbal balik. Ada aksi dan reaksi. Apa yang kita dapatkan biasanya akan berdasarkan pada apa yang kita kerjakan. Jika kita berbuat baik pada orang lain kita juga akan menerima perlakuan yang baik, jika kita melakukan suatu kejahatan, kesalahan pada orang lain otomatis kita juga akan mendapatkan akibat atau efeknya.

Kehidupan semacam ini terus terjadi, dan rasanya sangat sulit untuk diubah. Hanya ada segelintir manusia yang mampu untuk tetap mengasihi, berbuat baik sekalipun yang ia dapatkan adalah sesuatu hal atau perlakuan yang buruk, tidak mengenakkan dari orang lain. Rupanya, sikap semacam ini telah diajarkan dan telah dilakukan Oleh Allah.

Bacaan kita saat ini, akan direnungkan dalam satu tema yaitu, Kasih dan Setia Allah. Semua orang Kristen tentu tahu dan meyakini bahwa Allah itu maha pengasih, Allah itu maha penyayang, Allah itu maha baik dan lain sebagainya. Ya, benar. Hal ini tidak dipungkiri karena semua yang menyatakan dirinya percaya pada Yesus telah mengalami kasih dan setia Allah.

Seperti dalam bacaan kita juga saat ini dalam Kitab Zakharia. Berbicara tentang Allah yang setia dalam kasihNya. Tidak terhitung berapa kali bangsa Israel bertindak tidak setia di hadapan Allah dari zaman nenek moyang mereka. Berulang kali bangsa Israel menduakan Allah, hidup dalam ketidaktaatan, melakukan sesuatu menurut pengertian mereka sendiri. Maka kita banyak menjumpai dalam Alkitab bagaimana Allah bertindak dengan adil.

Ketika bangsa Israel memberontak dihadapan Allah, mereka akan menanggung murka Allah. Salah satunya mereka menjadi orang buangan di bangsa musuh. Ketika dalam keadaan seperti itu, mereka kembali berseru kepada Allah dan memohon pertolongan Allah, pada akhirnya mereka dibebaskan. Mereka dibawa kembali ke Yerusalem, dan Zakharia menyerukan suatu pembaharuan dari bangsa Israel dimulai dari pembangunan kembali Bait Suci, dan juga pembaharuan secara pribadi dari segenap bangsa Israel.

Didalam upaya Ini, Allah tidak meninggalkan mereka sendiri, ada Roh pengasihan, Roh pengampunan yang dicurahkan atas bangsa Israel, untuk apa?

  1. Agar bangsa Israel mampu melihat Kesetiaan Allah. Betapa besar kasih Allah kepada umatNya, menolong umatNya menuju pada pertobatan.
  2. Agar bangsa Israel menyesali akan dosa-dosanya yang telah menikam Allah sendiri. Berkenaan dengan ini ada ratapan, tidak peduli apakah dia raja, nabi, imam atau rakyat biasa (Bnd Zak 12:12-14) semua mereka sama telah menikam Allah. Bagi kita keluarga Kristen masa kini, kitapun sama terkadang berlaku tidak setia dalam mengikut Tuhan. Kitab Zakharia pasal 9 – 14, berbicara tentang nubuatan Akan kedatangan sang Mesias yang dijanjikan. Kristus yang disalibkan itu adalah bukti kasih dan setia Allah. Kita pun sama telah menyalibkan Dia, melalui ketidaktaatan kita, dalam mengingkari janji-janji yang kita ucapkan dalam doa saat kita membutuhkan sesuatu, meskipun demikian Allah tetap setia dari dahulu kala, sekarang dan selama-lamanya.

Melalui bacaan kita, mari kita merefleksi diri dalam minggu-minggu sengsara ini, ada Roh Kudus dalam kita yang menolong untuk menginsafkan kita dari dosa-dosa kita, mari meratap (tangisan yang pilu, pedih, getir, seperti tangisan duka) betapa kejamnya kita dihadapan Allah. Sadari dan sesali ketidaktaatan kita.

Tidak peduli saya sebagai pelayan dalam gereja, saya sebagai jemaat biasa, semuanya perlu meratap dan menyesali akan hancurnya hidup kita karena dosa.

Kesetiaan dan Kasih Allah tidak bermaksud memanjakan kita, memaklumi kita untuk berbuat dosa tetapi untuk semakin menyadarkan bahwa sungguh betapa saya yang hina ini mendapat bagian dalam kasih Allah, oleh sebab itu sudah semestinya saya bertobat.[*]

Penulis: Vic. Ratna Kristiani Ina, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *