Saudara/i yang diberkati oleh Tuhan…
Pujian adalah pernyataan memuji, berasal dari kata “puji” yang artinya rasa pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan atau keunggulan seseorang. Harus disadari bahwa setiap orang selalu ingin dipuji dan diakui banyak orang, yang terkadang melalui pujian itu, ada yang kemudian menganggap bahwa seterusnya ia harus selalu mendapat pujian dan merasa kecewa dan diabaikan jika tidak lagi dipuji. Menjadi pertanyaan, apakah harus kita merasa kecewa?
Pemazmur dalam bacaan saat ini mengungkapkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang memang layak untuk dipuji atas kebesaran dan keperkasaan-Nya. Mengapa? Karena kasih-Nya yang nyata bagi umat pilihan-Nya yaitu Israel. Banyak yang sudah dilalui umat Israel, begitu panjang perjalanan kehidupan yang mereka lalui hingga sampai akhirnya mereka keluar dari pembuangan dan menuju pada tanah perjanjian. Merenungkan semua yang telah terjadi, tidak ada alasan untuk tidak memuji Tuhan. Pemazmur mengungkapkan bahwa pengalaman hidup bangsa Israel bersama Tuhan : jatuh bangun, bangkit dan menang adalah suatu hal yang harus diungkapkan dalam suatu seruan yang agung untuk Allah. Seruan itu dipakai dalam membuka dan menutup pasal 150 ini. “Haleluya” menjadi suatu pengakuan yang berarti bahwa Tuhan sungguh luar biasa dalam kekuatan dan kebesaran-Nya yang selalu ada dalam setiap pengalaman hidup umat-Nya.
Saudara/i yang diberkati oleh Tuhan…
Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah seperti mengikuti irama lagu, ada saatnya terdengar suara yang datar, terkadang lambat laun semakin tinggi dan kadang semakin rendah, terkadang ada hentakan keras dan ada pula yang tiba-tiba lembut. Semuanya itu terpadu dan menciptakan nada yang indah.
Jika kita boleh mengikuti irama kehidupan kita saat ini, tentulah pasti kita akan merasakan hal yang demikian. Terkadang kita menjalani kehidupan yang biasa saja, tiba-tiba bisa muncul masalah yang semakin lama semakin memuncak, namun dilain kesempatan, kita juga merasakan masalah itu semakin hari semakin reda dan dapat teratasi. Tiba-tiba kita dapat merasakan sukacita dan bisa juga tiba-tiba kita merasakan dukacita. Itu adalah irama, kehidupan yang sedang kita jalani, tetapi jika kita mau menerima itu semua sebagai bagian dari kehidupan maka kita akan menikmatinya layaknya menikmati lagu kesukaan.
Lantas bagaimana kita dapat memuji Tuhan dalam hidup ini :
1. Jawaban yang diberikan pemazmur ada pada ayatnya yang ke 3-5…
memuji Tuhan dengan tiupan sangkakala, gambus dan kecapi, rebana dan tari-tarian, dengan permainan kecapi dan seruling, dengan ceracap yang berdenting dan berdentang artinya berilah dirimu menjadi alat saksi Allah yang terus hidup dalam kepujian bagi Allah.
Namun, tidak semua orang dapat memainkan alat musik dan tidak semua orang juga memiliki suara yang indah untuk bernyanyi, akan tetapi memainkan alat musik dan bernyanyi bukanlah satu-satunya cara untuk memuji Tuhan.
Memuji Tuhan tidak terbatas pada alat, keadaan, tempat dan waktu,. Sukacita kita untuk memuliakan Tuhan tidak dapat dibatasi oleh apapun.
Nada pujian yang terindah bagi Tuhan adalah kehidupan kita sendiri.
Setiap kita harus menyadari bahwa kita bisa hidup sampai saat ini karena nafas yang masih Tuhan berikan untuk kita. Nafas tidak bisa kita simpan untuk dipakai kemudian. Jika kita memilih untuk menahan nafas, maka kita akan melewatkan kesempatan untuk itu. Bahkan jika kita menahannya untuk waktu yang lama, kita bisa pingsan atau bahkan mati.
2. Memuji Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu atau tergantung situasi.
Bukan hanya ketika kita berada dalam sukacita berkat yang melimpah, tetapi disaat kita berduka atau bahkan ketika kita sakit.
Bukan pula hanya ketika kita datang ke gereja kita memuji Tuhan lalu kalau sudah pulang rumah, kita menjadi orang yang berbeda bahkan sampai mendusi atau sibuk dengan hidup orang lain.
Saudara/i yang diberkati oleh Tuhan…
Satu hal yang juga diajarkan oleh pemazmur bahwa memuji Tuhan tidak hanya terjadi di bait Allah atau di gereja saja, tetapi juga dilangit dan dibumi (ay.1). Artinya bahwa setiap umat bukan berarti setiap saat harus mengucapkan kata-kata “haleluya” atau “puji Tuhan” tetapi lebih dari itu ialah memuji Tuhan melalui kuasa yang dimiliki, melalui jabatan, melalui talenta ataupun melalui pekerjaan baik bahkan dimanapun kita berada kiranya hidup ini menjadi pujian yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th