Berjalan Bersama Kristus Menuju Kemuliaannya (Markus 9:2-13)

Ada pepatah Ubuntu dari Afrika yang berkata: “Jika anda ingin berjalan lebih cepat, berjalanlah sendirian; jika anda ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama orang lain”. Hidup di dunia ini tidak hanya bicara soal bagaimana kita berjalan lebih cepat dari orang lain, tetapi lebih daripada itu agar kita dapat berjalan lebih jauh mengejar setiap apa yang menjadi tujuan hidup kita di dunia ini, secara khusus mengejar jalan keselamatan yang disediakan Allah atas kita.

Markus mencatat, kisah tentang peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung didahului oleh peringatan Yesus kepada muridNya mengenai penderitaan dan kematianNya yang akan datang serta harga yang harus dibayar untuk mengikuti Dia. Yesus mengatakan kepada para murid bahwa pertama-tama Dia harus menderita, mati dan bangkit. Yesus tahu persis akan apa yang terjadi dan untuk itu Ia perlu mempersiapkan para murid untuk menghadapi peristiwa itu dengan menunjukkan kemuliaan yang ada padaNya untuk meyakinkan para murid bagaimana caraNya?

Dia tidak berjalan sendiri, Dia membutuhkan teman, Dia membutuhkan rekan yaitu ketiga muridNya : Yaitu : Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mengapa hanya tiga orang saja yang diajak Yesus? Mereka bertiga adalah murid-murid yang paling dekat dengan Yesus bahkan peristiwa yang sama pula, mereka inipun diajak Yesus dalam pergumulanNya di taman Getsemani (Markus 14:33). Ia membawa para murid untuk berdoa.

Peristiwa ini seolah menggambarkan bahwa Yesus, sudah memandang jauh ke depan.. Ia tahu akan tugas berat yang dijalaniNya memerlukan kekuatan dari Allah, BapaNya. Dan dimana kekuatan Allah itu nampak pada Yesus? dalam bacaan dijelaskan bahwa Yesus dan para muridNya berada di atas gunung paling tinggi di Israel yaitu Gunung Hermon. Di gunung inilah kemuliaan Allah dinyatakan didalam Yesus yang telah berubah rupa. Wajahnya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bagaikan terang cahaya (ayat 3).

Pada saat itu, tampil pula dua figur yang sangat dimuliakan dalam Perjanjian Lama: Musa adalah orang yang menanamkan hukum tertinggi Israel. Berkat dialah bangsa Israel memiliki hukum-hukum Allah. Elia adalah orang yang utama dan terbesar di antara para nabi. Orang selalu mengenangnya sebagai nabi yang benar-benar menyampaikan suara Allah kepada manusia. Keduanya berbicara dengan Yesus terkait misi Yesus yang harus mati di Yerusalem.

Bagi para murid, ini merupakan pengalaman luar biasa yang tergambar melalui ungkapan “betapa bahagianya kami berada di tempat ini”, menunjukkan bahwa peristiwa Yesus yang berubah rupa dan hadirnya Musa dan Elia membawa kekaguman dan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Namun, uniknya… ada perbedaan sikap antara Yesus dan murid-murid di atas gunung itu. Yesus memikirkan dan mempersiapkan jalan memenuhi misi Allah-apa yang harus dilakukan ke depan. Sedangkan para murid menikmati suasana indah dan luar biasa itu sehingga enggan untuk beranjak dari gunung itu.. bahkan dengan sangat cepat, Petrus mengatakan untuk mempersiapkan tenda tempat berkemah Yesus, Musa dan Elia. Mereka merasa nyaman dengan keadaan itu, tanpa memikirkan apa yang akan dialami oleh Yesus.

Berdeda dengan Yesus. Kemuliaan yang dipikirkan Yesus adalah kemuliaan dengan jalan memenuhi semua tugas berat yang akan dipikulNya, bagi Yesus menjadi mulia berarti taat sampai mati. Yesus menjadi mulia dan dimuliakan karena sejak awal Ia tahu untuk apa kehadiranNya di dunia ini dan Ia bersedia menerima tugas berat yang harus dipikulNya. Dan karena itu, Ke-Mesias-an Yesus bukan hanya dinyatakan dalam peristiwa kemuliaan-Nya, melainkan juga dalam jalan penderitaanNya.

Peristiwa berubahnya rupa Yesus dalam kemuliaan bukan hanya sekadar pamer kemuliaan. Kemuliaan Yesus memberi gambaran bagi para murid bahwa kemuliaan hanya bisa dicapai dengan kesetiaan dan ketaatan. Jangan kita mengaku setia kalau saat ini kita masih sungut-sungut.. masih sering terjebak pada kemuliaan semu. Pada umumnya kita sudah cukup puas dengan saya percaya pada Yesus : berdoa, membaca Alkitab dan beribadah. Itu tidak salah dan harus dilakukan. Menjadi keliru kalau hanya berhenti di situ.

Peristiwa transfigurasi (berubah rupa) Yesus, yang membuat Dia mulia karena tekadNya untuk setia pada panggilan yang dijalankanNya sampai tuntas. Belajar dari Yesus yang membuat Dia Mulia karena setia dan taat pada panggilanNya, demikian juga kita saat ini, harus mengenal panggilan hidup di dalam Tuhan dan berusaha bahkan dengan sukacita menjalaninya, meskipun berat, penuh tantangan dan derai air mata. Sudahkah kita mengenal dan mewujudkan panggilan hidup kita di dalam Tuhan?

Mengenal dan mewujudkan panggilan hidup dalam Tuhan berarti berusaha menghargai nilai-nilai kemanusiaan sehingga kita mampu meniadakan berbagai bentuk kekerasan (KDRT, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kekerasan atas nama Allah dan agama), ketidakadilan (eksploitasi kepada sesama yang dianggap lemah), diskriminasi (perlakuan yang tidak adil karena gender, suku, kelompok disabilitas, dan agama). Mengapa? Sebab dalam jalan ketaatan dan jalan penderitaan yang Yesus tempuh, Ia tempuh itu dalam jalan tanpa kekerasan.

Firman Tuhan hari ini kiranya menyadarkan kita dalam mengikut Yesus. bahwa yang menjadi fokus kita bukan keinginan diri sendiri, asik dengan ambisi diri sendiri, apalagi dengan memakai nama Tuhan sebagai alat untuk menggapainya. Namun berjuang untuk setia pada panggilan hidup dalam melawan berbagai ketidakadilan, penindasan dan kekerasan. Ingatlah pula, bahwa ketimbang menuruti permintaan Petrus untuk mendirikan kemah di atas gunung, Yesus justru mengajak mereka turun dari gunung untuk bersiap menyambut jalan penderitaanNya.

Ada pilihan untuk hidup nyaman di atas gunung dan menghindar dari jalan melawan berbagai ketidakadilan, penindasan dan kekerasan tetapi Yesus memilih untuk tidak menghindar melainkan menjalaniNya dalam ketaatan dan kesetiaan penuh. Bersediakah kita juga setia pada panggilan hidup seperti Yesus? Tuhan memberkati kita. Amin! [*]

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *