Iman yang Mewujud dalam Pelayanan, Perkataan dan Perjuangan (2 Raja-Raja 4:8-37)

Iman seringkali dipahami oleh kebanyakan orang yaitu sebatas pada percaya kepada Allah atau dalam artian lain cukup beragama Kristen atau menjadi Kristen. Padahal iman, tidak hanya sebatas pada dibaptiskan dan menjadi Kristen, tetapi lebih dari pada itu harus mewujud dalam setiap aspek kehidupan. 

Perempuan Sunem dalam bacaan saat ini memberikan gambaran yang menarik tentang iman. Ada 3 hal yang dapat dipelajari dari iman seorang perempuan Sunem ini. 

1. Melalui Pelayanan

Perempuan Sunem adalah seorang yang berkecukupan secara materi dan juga hidup harmonis dengan suaminya walaupun tidak memiliki keturunan. Mereka mensyukuri anugerah Allah dalam kehidupan mereka dengan melayani nabi Allah yaitu Elisa dengan sebaik-baiknya.

Mereka tentu mendengar cerita bahwa Elisa mengutuk anak-anak di Betel (2 Raj 2:23-25) namun mereka (terutama perempuan sunem) memilih untuk percaya bahwa Elisa adalah hamba Allah (ay.9) sehingga mereka memilih untuk melayani nabi Elisa dan bahkan menyediakan kamar khusus bagi Elisa agar dapat dipakai menginap jika ia datang ke Sunem.

Mereka melayani nabi Elisa tidak dengan tujuan tertentu bahkan untuk mendapatkan keturunan sekalipun walaupun mereka merindukan memiliki keturunan. Hal ini terbukti bahwa ketika Elisa ingin membalas kebaikan mereka, perempuan sunem mengatakan bahwa ia sudah memiliki segalanya yaitu keluarga (ay.13).

Mereka sungguh-sungguh berniat melayani dan berbagi dengan Elisa tanpa mengahrapkan apa-apa bahkan ketika dijanjikan akan memiliki anak, perempuan Sunem mengingatkan Elisa agar ia jangan diberikan harapan yang tidak pasti (ay.16).

Baginya dengan melayani Elisa sudah merupakan sukacita untuk dirinya dan juga suaminya, sehingga dia tidak mengharapkan apa-apa lagi. Namun, apa yang menjadi perkataan Elisa sebagai nabi terbukti, dimana pada tahun berikutnya perempuan sunem itu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.

2. Melalui Perkataan 

Cerita tentang kehidupan mereka tidak berakhir hanya ketika anak mereka lahir saja. Ketika anak itu telah besar, ia sakit dan meninggal. Perempuan sunem ini, tidak kehilangan iman dan pengharapan. Dalam kepedihan, Ia membaringkan anaknya di kamar nabi Elisa. Ia tahu bahwa apa yang berasal dari Allah tentu dapat dipulihkanya, sehingga ia beranjak pergi ke suaminya untuk meminta keledai dan pelayan untuk menemaninya ke gunung karmel.

Hal menarik adalah perempuan sunem itu tidak membagikan kekuatiran dan kesedihannya kepada suaminya melainkan mengatakan kepada suaminya untuk tidak kuatir, padahal saat itu anak mereka sudah dalam keadaan meninggal.

Tidak terlontar dari mulutnya kata-kata yang negatif, kata-kata yang mematahkan semangat atau kata-kata yang menyedihkan. Bahkan ketika telah sampai di gunung karmel dan ditanya oleh Gehazi apakah keluarganya dalam keadaan selamat, ia tetap mengatakan bahwa mereka berada dalam keadaan selamat walaupun anaknya telah mati. 

3. Melalui Perjuangan 

Perempuan sunem yang kehilangan anaknya percaya bahwa Allah akan memulihkan kembali keadaan anaknya sehingga ia rela menempuh jalan yang jauh untuk bisa berjumpa dengan abdi Allah, Elisa. Jarak dari sunem ke gunung karmel sekitar 16-17 mil.

Namun, walaupun jauh dan butuh perjuangan yang tidak mudah perempuan sunem menempuh perjalanan itu demi pemulihan anaknya. Selain itu, ketika Elisa akan menyuruh Gehazi untuk melihat anaknya, perempuan sunem itu berkata bahwa ia akan meninggalkan Elisa. Ia akan tetap berdiri dan menunggu Elisa untuk datang memulihkan anaknya. Melihat perjuangannya, Elisa pun akhirnya ke sunem dan memulihkan keadaan anaknya. 

Inilah tiga hal yang dapat dipelajari dari kehidupan iman seorang perempuan sunem. Walaupun ia tidak memiliki keturunan namun ia bersyukur dan melayani hamba Allah dengan sukacita. Walaupun anaknya mati, namun ia tidak membagikan kekuatiran dan kesedihannya kepada orang lain, namun tetap menyemangati orang-orang di sekitarnya dan percaya kehidupannya akan baik-baik saja (selamat). Walaupun harus menempuh perjalanan jauh, namun ia menelusurinya untuk pemulihan anak terkasihnya. 

Dari tiga hal yang telah ditunjukkan oleh perempuan sunem, kita pun diajak untuk memiliki iman yang demikian :

  1. Ketika melayani Allah maka lakukanlah itu karena cinta yang besar kepadaNya dan bukan karena menginginkan sesuatu sebagai timbal balik
  2. Walaupun kita berada dalam keadaan yang terpuruk namun berusahalah untuk tetap membagikan hal-hal baik di sekitar kita dan meyakini bahwa kehidupan kita akan baik-baik saja dalam penyertaan Allah
  3. Ketika menginginkan pertolongan dari Allah maka berjuanglah untuk mendapatkannya. 

Amin. [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *