Perjumpaan Paulus dengan Kristus waktu Paulus berada dalam perjalanan ke Damaskus. Bagi Paulus semua pengalaman yang ada dalam diri Paulus tidak melahirkan kebanggan diri. Rasul Paulus malah membanggakan kelemahan yang ada dalam diriNya dengan berpendapat “supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar bisa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu suatu utusan iblis”. Berulang kali Paulus memohon kepada Tuhan agar bebannya di angkat dari dirinya. Namun, Paulus harus kembali tunduk pada otoritas Tuhan, karena dalam hambatan inilah kuasa kasih karunia Tuhan yang semakin disempurnakan di dalam diri Paulus.
Keluarga yang diberkarti Tuhan…
Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat di atas, berlawanan dengan semangat sekarang ini dimana manusia hanya menginginkan kenikmatan saja. Dan yang dimaksud Paulus tentang duri adalah menyangkut kesakitan, kesukaran, penderitaan (ayat 10). Bisa juga berbentuk sakit penyakit, atau hal-hal yang terus datang di dalam dirinya secara rutin, dan sangat menyedihkan. Sementara anak rohaninya sendiri, Timotius juga mengalami hal yang sama.
Ketika Timotius mengalami gangguan pencernaan Paulus berkata kepada Timotius supaya jangan meminum air saja tetapi menambahkan sedikit sari anggur. Apa yang dibicarakan Paulus merupakan hal yang luar biasa yakni ia sadar dan menerima apa yang Tuhan kerjakan, kesadaran menerima pembentukan oleh Tuhan.
Paulus mempunyai karunia-karunia yang kuar biasa, penglihatan-penglihatan yang sangat hebat, yang dapat melengkapi dalam pelayanannya. Dia juga mampu mengungkapkan kebenaran itu dihadapan para ahli bicara Yunani di Athena. Dia juga mampu bicara kepada mereka yang kacau ajarannya dan mencoba meluruskannya. Ini juga merupakan hal yang luar biasa yang dimiliki oleh Rasul Paulus.
Paulus menyikapi duri yang ada dalam tubuhnya bukan dengan kecewa, marah. Dia tiga kali memohon kepada Tuhan supaya di cabut, tetapi Tuhan berkata, “Tidak, cukuplah kasih karuniaKu bagimu”.
Sebagai manusia yang rapuh dan tidak berdaya disini kita mempunyai pemikiran apakah Paulus ini orang yang dihina dan tidak layak menerima karunia dari Tuhan? Apakah Paulus ini seorang yang terkutuk?
Keluarga yang di berkati Tuhan…
Sering kita mengatakan bahwa anak Tuhan kalau sakit berarti mereka tidak memuliakan Tuhan. Seringkali ketika kita berada dalam penderitaan itu merupakan sesuatu dari Tuhan. Sering juga kita mengatakan anak-anak Tuhan itu kalau tidak jago berarti tidak hebat tidak memuliakan Tuhan. Ketika sakit kita menyalahkan Tuhan, ketika rapuh kita menyalahkan Tuhan, ketika kita mengalami hal-hal yang tidak kita bayangkan dalam kehidupan ini kita menyalahkan Tuhan, kita beranggapan bahwa Tuhanlah yang paling salah dalam semuanya ini. Padahal semua ini adalah pencobaan yang datang kepada kita agar kita lebih mendekatkan diri kita lagi kepada Tuhan dan tidak mengabaikan perintah Tuhan.
Orang yang melakukan kebenaran, sekalipun pola hidupnya pasang-surut, beda-beda yang dialami dalam perjalanan hidup-Nya. Ia tidak pernah merasa gelisah. Karena itu tidak penting bagi anak Tuhan. Tetapi melakukan kebenaran itu sendiri didalam kehidupannya, bukan sekedar mengatakan tetapi juga mewujudkannya. Bukan sekedar diluar saja tetapi keluar dari batinnya juga.
Keluarga yang di berkati Tuhan….
Apa yang dialami Paulus penting sekali untuk kita lihat dan penting kita pikirkan. Disini ada satu sikap Paulus yang perlu kita pelajari, ia memandang terbalik dari apa yang kita pandang. Justru di tengah-tengah kesulitan itu ia mengalami sukacita, dan kekuatan yang luar biasa karena di dalam kelemahannya ada kekuatan Tuhan.
Dizaman sekarang ini kita selalu ingin menjadi pemenang. Kita maunya selalu senang, tidak mau susah. Apalagi kita berada ditengah-tengah berbagi ajaran yang seperti itu. Sehingga kita tidak menerima kenyataan ketika kita sakit berkepanjangan.
Contohnya kita tidak bisa menerima kenyataan gagal terus dalam berbisnis atau keluarga yang sering mengalami masalah. Disitu kita tidak menyadari bahwa hal ini berasal dari diri kita sendiri. Selalu gagal dalam dunia kerja selalu gagal melakukan yang terbaik. Kita selalu menyalahkan Tuhan ketika hal ini terjadi dalam kehidupan kita, padahal semua ini salah kita.
Ketika kita berada dalam kesulitan janganlah kita bersedih, ketika kita berada dalam keadaan sakit, rapuh, lemah dan lain sebagainya janganlah kita bersedih seperti ditinggalkan Tuhan. Tetapi bersedihlah ketika kita tidak berdiri diatas kebenaran, dan tidak melakukan kehendaknya. Sedihlah ketika kita meragukan kuasa Tuhan, sedihlah ketika kita tidak percaya akan penyertaan-Nya, sedihlah ketika kita tidak percaya Tuhan karena semua keadaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Sedihlah ketika kita berkata dimana Kau Tuhan, kita bertanya keberadaan-Nya Tuhan.
Di dunia ini tidak ada persoalan yang terlalu berat kecuali tidak bisa bergantung kepada Tuhan. Tidak ada persoalan hidup yang tidak bisa kita selesaikan ketika kita bersama-sama dengan Tuhan, oleh karena itu ketika Paulus meminta tiga kali tetapi Tuhan menjawab, ”Tidak, cukup kasih karuniaKu bagimu”. Maka berimanlah Paulus dan melihat betul kasih karunia Tuhan lebih dari cukup didalam kehidupannya. Dia tidak merengek, dan tidak meninggalkan Tuhan. Dari sinilah kita bercermin, maka pola pikir kita mesti benahi didalam diri kita kalau mau menjadi orang kristen yang baik, membuat benteng pertahanan yang solid dan kembali merasakan penyertaanNya dalam hidup kita. Amin.[*]
Penyusun : Cavic. Heli Sabarua, S.Th