Keadaan yang menyenangkan bahkan yang tidak menyenangkan selalu mewarnai perjalanan hidup manusia. Bertolak dari kenyataan tersebut, tentu kita berharap bahwa keadaan di depan kita akan selalu baik, sehingga hidup kita pun semakin indah dan menyenangkan. Namun kenyataannya, kita seringkali kecewa karena keadaan yang kita harapkan di masa depan bukannya bertambah baik, justru sebaliknya semakin banyak dan berat.
Firman Tuhan saat ini menceritakan tentang sosok Bartimeus yang memiliki sikap iman yang luar biasa ketika ia dalam keadaan yang tidak menyenangkan oleh karena keterbatasan/kekurangan yang ia miliki. Iman yang membawanya pada kesembuhan atas penyakitnya, yang mengubah keadaannya. Ada beberapa Langkah iman Bartimeus yang tentunya juga harus dimiliki oleh orang percaya.
1. Iman Bartimeus timbul dari pendengarannya
Dikatakan bahwa Bartimeus ini adalah seorang pengemis yang buta. Tentu karena keadaannya sebagai pengemis dan buta, ia tidak pernah masuk ke bait suci sampai ke dalam, ia hanya mendengar dari luar. Karena dia kategori orang yang tidak masuk dalam hitungan di bait suci bagi orang Yahudi, sebab orang cacat seperti Bartimeus ini diyakini oleh orang Yahudi dan imam-imam adalah orang yang dikutuk oleh Tuhan. Tetapi meski demikian dia tetap percaya ketika mendengar firman Tuhan dan sudah pasti dia juga sudah mendengar tentang Yesus sebelumnya sehingga pada waktu dia mendengar bahwa Yesus orang Nazaret lewat di dekatnya, ia segera memanggil Yesus. Dia percaya kepada Yesus tanpa melihat sehingga dengan berani dia mengungkapkan ‘Yesus Anak Daud, kasihanilah aku’. Ungkapan tersebut berarti ia mengakui dan meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang memiliki kuasa yang besar yang sanggup menolongnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah setiap Firman yang kita dengar membawa pembaharuan dalam iman kita? Ataukah sebaliknya, hanya sebatas mendengar? Kalau kita jadikan pendengaran kita sebagai dasar iman, percaya apa yang dijanjikan Tuhan, apa yang dinubuatkan firman Tuhan, yakin dan percayalah kita bisa mendapatkan lebih dari apa yang kita bayangkan yang akan Tuhan berikan dan pasti akan mengubah keadaan kita.
2. Iman yang tidak pantang menyerah
Dalam keadaannya yang seperti itu, Bartimeus adalah sosok yang gigih dalam memperjuangkan sesuatu. Itu dapat dilihat dari bagaimana ketika ia dihalang-halangi oleh orang sekitarnya untuk diam, namun dia semakin keras berteriak. Ia tidak malu dan takut untuk menyatakan imannya kepada Tuhan walaupun banyak yang tidak suka. Pengakuannya akan Yesus tidak berubah dan pada akhirnya mengubah keadaannya.
Banyak orang Kristen yang tidak tahan terhadap segala godaan, yang imannya cepat rapuh dengan tantangan-tantangan yang ada. Pengakuan iman kita mulai berubah saat ada tantangan. Mari kita belajar dari Bartimeus, memiliki iman yang tidak pantang menyerah, yang tidak mudah berubah, tidak mudah rapuh. Dalam keadaan yang seperti ini, mari tetap berjalan dalam iman yang teguh kepada Tuhan, tetap berharap dan berseru dalam doa kepada Tuhan karena saat kita imani Dia dengan sungguh, mujizat-Nya akan dinyatakannya bagi kita.
3. Iman yang nyata dalam tindakan
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Bartimeus ketika Tuhan Yesus telah menyembuhkannya, ia mengikut Yesus. Ia tidak hanya memohon belas kasihan Yesus, tetapi dia mersepon karya Tuhan dalam hidupnya dengan mengikuti Tuhan.
Sebagai orang percaya, sudah selayaknya kita berjalan mengikuti Yesus, baik teladan maupun perintah-Nya sebagai bukti iman kita kepada-Nya karena kita sudah begitu banyak menerima kemurahan Tuhan dalam hidup ini.
Kekasih-kekasih Tuhan…
Untuk dapat menghadapi keadaan sukar yang ada di depan kita, sebagai orang Kristen kita harus memiliki iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus dan hidup oleh iman itu karena berkat dari iman, kita dapat bertahan di tengah-tengah keadaan dunia yang penuh dengan pencobaan, kesukaran, ketidaktentuan, malapetaka, sakit penyakit, krisis di segala bidang kehidupan manusia dan lain sebagainya. Lebih dari itu, iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus tidak hanya membuat kita mampu bertahan, melainkan juga dapat mengubah segala keadaan yang sukar menjadi keadaan yang menyenangkan, yang penuh dengan harapan dan kemenangan di dalam Dia. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin. [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th