Setiap orang tua pasti menginginkan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras agar mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Namun, di tengah dunia yang terus berubah dan penuh tantangan moral ini, pendidikan akademik saja tidak cukup untuk menjamin keselamatan dan keberhasilan hidup anak-anak kita, Mazmur 112 yang kita baca hari ini.
Secara sastra, Mazmur 112 adalah mazmur hikmat. Sebuah puisi pengajaran yang ditulis menggunakan struktur akrostik abjad Ibrani (urutan huruf A sampai Z). Mengapa ditulis demikian? Tujuannya agar firman ini mudah dihafal, diingat, dan diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka di rumah. Jadi, teks ini sejak awal memang didesain sebagai kurikulum pendidikan iman dalam keluarga.
Secara sejarah, bahwa Mazmur ini ditulis pada masa pasca-pembuangan bangsa Israel di Babel. Saat itu, situasi umat sangat terpuruk. Mereka mengalami “kegelapan” berupa krisis ekonomi yang hebat, tekanan politik dari bangsa asing, dan kemerosotan moral.
Di tengah keputusasaan itulah pemazmur hadir membawa kabar baik: “Habis Gelap Terbitlah Terang! Pemulihan sebuah bangsa, masyarakat, dan masa depan dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Melalui Mazmur 112:1-4, kita belajar bagaimana membangun lembaga pendidikan pertama dan utama, yaitu rumah tangga kita sendiri, demi melahirkan generasi yang berhikmat. Ada 4 point penting dalam bacaan kita ini, yaitu:
1. Kurikulum Utama: Takut Akan Tuhan (Ayat 1)
“Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”
Pendidikan terbaik di dalam rumah tangga bukan dimulai dari mengajarkan matematika atau sains, melainkan mengajarkan rasa hormat dan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti hidup menghormati kekudusan-Nya dan menjauhi dosa.
Sebagai orang tua kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apakah anak-anak melihat kita membaca Alkitab, berdoa, dan setia beribadah?
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Sebelum anak-anak kita menjadi generasi yang “sangat suka kepada perintah-Nya,” kita sebagai orang tua harus terlebih dahulu menjadi teladan yang mencintai Firman Tuhan.
2. Generasi yang Perkasa dan Diberkati (Ayat 2-3)
“Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.”
Kata “perkasa” disini bukan sekadar kuat secara fisik, melainkan kuat secara karakter, mental, dan rohani. Generasi yang berhikmat tidak akan mudah terseret oleh arus pergaulan yang merusak. Tuhan juga berjanji menyediakan kecukupan bagi keluarga yang hidup benar.
Investasi terbesar kita bukanlah warisan harta materi, melainkan warisan iman dan karakter. Pendidikan berbasis Firman Tuhan melahirkan anak-anak yang tangguh di sekolah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat.
3. Pengharapan Masa Depan: Habis Gelap Terbitlah Terang (Ayat 4)
“Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.
Umat Allah saat itu hidup di bawah tekanan bangsa asing dan mengalami krisis ekonomi. Melalui ayat ini, pemazmur meyakinkan umat bahwa meskipun situasi sekitar mereka sedang runtuh dan gelap gulita, keluarga yang tetap mendidik anaknya dalam hukum Tuhan akan melihat terbitnya fajar pertolongan Tuhan.
Kegelapan bisa berupa masalah ekonomi, sakit penyakit, atau tantangan moral zaman ini. Namun, firman Tuhan berjanji bahwa bagi orang benar, “terang” akan selalu terbit.
Pendidikan iman memberikan anak-anak kita kompas rohani; ketika mereka menghadapi masa-masa sulit (gelap) dalam hidupnya, kelak hikmat Tuhan akan menuntun mereka menemukan jalan keluar (terang). Bentuklah karakter anak yang penuh kasih, penyayang, dan adil.
Jadikan rumah kita tempat yang penuh dengan pengampunan dan kasih sayang, bukan kekerasan atau caci maki. Di situlah terang Kristus memancar.
Pertanyaannya, bagaimana mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?
1. Mengutamakan Keteladanan Orang Tua (Role Model)
Sadarilah bahwa anak-anak meniru apa yang orang tua lakukan, bukan apa yang orang tua katakan. Tunjukkan sikap takut akan Tuhan secara konkret di rumah.
Contohnya, tunjukkan cara menyelesaikan konflik suami-istri dengan kasih, menjaga ucapan agar tetap santun, serta jujur dan setia dalam mengelola keuangan keluarga.
2. Mengimbangi Pendidikan Formal dengan Pendidikan Karakter
Jangan hanya menuntut nilai akademik yang tinggi di sekolah, tetapi utamakan juga pertumbuhan buah roh dan integritas anak. Pujilah anak saat mereka menunjukkan sikap jujur, suka berbagi, atau berani meminta maaf. Jadikan momen makan bersama untuk berdialog dan menanamkan nilai-nilai moral kehidupan.
3. Menjadi “Terang” saat Menghadapi Krisis Rumah Tangga
Mengubah cara merespons masalah (ekonomi, kesehatan, atau perbedaan pendapat) dari mengeluh menjadi bersandar pada Tuhan.
Ketika keluarga mengalami masa sulit (habis gelap), ajak seluruh anggota keluarga untuk berdoa bersama. Ajarkan anak-anak melihat bagaimana iman bekerja mendatangkan jalan keluar (terbitlah terang).
Akhirnya, keluarga kita akan selamat, dan masa depan anak-anak kita akan cerah jika kita tidak mengabaikan pendidikan rohani mereka. Mari jadikan PA rumah tangga malam ini sebagai komitmen baru untuk membangun mezbah keluarga, mendidik dengan kasih, dan menanamkan takut akan Tuhan. Ketika fondasi iman di dalam rumah tangga kokoh, maka badai segelap apa pun di luar sana tidak akan mampu meruntuhkan masa depan anak-anak kita. Tuhan Yesus memberkati keluarga kita. Amin. [*]
Penulis: Cavic Suryani Indawenthy Wadu, S.Th.