Ada sebuah pepatah mengatakan, “Rumahku adalah Istanaku.” Kalimat ini menekankan bahwa rumah adalah tempat paling nyaman, tempat kita berlindung dari dunia luar yang keras. Namun bagi kita orang percaya, rumah tidak boleh hanya menjadi “istana” yang tertutup rapat. Jika rumah kita adalah istana, maka pintu-pintunya harus terbuka bagi mereka yang membutuhkan.
Jika rumah kita adalah pelita, maka cahayanya harus menembus jendela hingga terlihat oleh orang-orang di luar sana.
Hari ini, melalui dua bagian Firman Tuhan, kita akan merenungkan bagaimana mengubah rumah tangga kita dari sekadar tempat tinggal menjadi pusat pancaran kasih Tuhan, antara lain:
1. Identitas Kita: Terang yang Tidak Tersembunyi (Matius 5:14-16)
Dalam Matius 5, Yesus memberikan sebuah pernyataan identitas yang kuat: “Kamu adalah terang dunia.”
Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata “Jadilah terang,” seolah-olah itu adalah pilihan. Tuhan Yesus berkata “Kamu adalah terang.” Ini berarti, setiap keluarga Kristen secara otomatis memikul tanggung jawab sebagai pembawa cahaya (Penyuluh- orang yang membawa obor/ Suluh dan berada di depan sebagai penuntun)
Yesus memberikan gambaran tentang “Kota di atas gunung” dan “Lampu di atas kaki dian.”Artinya: Kehidupan keluarga kita senantiasa dipantau oleh lingkungan sekitar. Tetangga melihat bagaimana kita berinteraksi, bagaimana suami menghargai istri, bagaimana anak-anak dididik, dan bagaimana kita bereaksi saat menghadapi masalah.
Tujuannya: Agar mereka melihat perbuatan baik kita, lalu memuliakan Bapa di Sorga. Rumah yang menjadi terang bukanlah rumah yang memamerkan kemewahan, melainkan rumah yang memamerkan karakter Kristus.
2. Belas Kasihan yang Menggerakkan (Markus 6:30-34)
Dalam Markus 6, kita melihat sisi kemanusiaan para murid yang lelah setelah melayani. Mereka ingin istirahat. Namun, apa yang terjadi? Orang banyak justru mendahului mereka.Tuhan Yesus mengajarkan satu hal penting di sini: Belas Kasihan.
Di tengah keletihan-Nya, Yesus tidak merasa terganggu. Ia melihat orang banyak itu seperti domba yang tidak punya gembala.
Pelajaran bagi Rumah Tangga: Seringkali kita merasa “lelah” dengan urusan domestik kita sendiri. Kita merasa tidak punya waktu untuk peduli pada orang lain. Namun, rumah yang menjadi terang dimulai ketika anggota keluarga memiliki hati yang mudah “tergerak oleh belas kasihan” saat melihat kesulitan sesama.
3. Memberi dari Apa yang Ada (Markus 6:35-44)
Bagian yang paling menarik adalah ketika murid-murid berkata, “Suruhlah mereka pergi.” Ini adalah sikap yang sering kita ambil: lepas tangan. Kita merasa masalah orang lain bukan urusan kita.Tetapi Yesus menjawab dengan tantangan: “Kamu harus memberi mereka makan!” Ketika murid-murid merasa tidak mampu, Yesus bertanya: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Pergilah dan periksalah!”
Tuhan tidak menuntut keluarga kita untuk menjadi kaya raya terlebih dahulu baru bisa menolong orang. Ia hanya bertanya, “Apa yang ada di rumahmu?”Mungkin hanya sepiring nasi untuk tetangga yang kekurangan.
Mungkin hanya waktu 15 menit untuk mendengarkan curhatan saudara yang berbeban berat. Mungkin hanya tumpangan kendaraan atau bantuan tenaga. Ketika kita membawa “lima roti dan dua ikan” milik keluarga kita ke tangan Tuhan, Tuhan akan memberkati dan melipatgandakannya sehingga menjadi berkat bagi orang banyak.
Penutup & Aplikasi
Rumah yang menjadi terang adalah rumah yang tidak membiarkan lilinnya padam di bawah gantang keegoisan. Kasih yang sejati bukan hanya kasih yang berputar-putar di dalam ruang tamu kita sendiri, tapi kasih yang meluap keluar pintu rumah. Ingatlah, saat kita membagikan kasih, kita tidak sedang kehilangan. Justru Saat itulah Allah Hadir dalam keluarga kita, seperti mukjizat 5.000 orang, selalu ada “sisa bakul” berkat yang Tuhan sediakan bagi keluarga yang murah hati. Amin! [*]
Penulis: Melkianus Nuku Hanggalang, S.Pd.K