Panas, panas, panas…. Sepertinya bulan September ini sangat panas, kekeringan itu sangat nyata saat mata melayangkan pandang di padang penggembalaan dengan asap dari padang yang terbakar semakin menambah panasnya dinamika kehidupan di bulan September.
Bertahan hidup adalah motivasi bagi kita untuk terus berjuang, berjuang dan terus berjuang. Berjuang untuk bertahan hidup di musim kering bagi makhluk hidup yang merasakan dampak musim panas dengan cara beradaptasi dengan lingkungan melalui strategi morfologis (fisik), fisiologis (fungsi tubuh), dan perilaku.
Seperti tumbuhan yang menggugurkan daun, menyimpan air, atau memanjangkan akar, sementara hewan dapat bermigrasi, melakukan estivasi (tidur panjang untuk menghindari panas), menyimpan makanan, atau mengurangi aktivitas tubuh untuk menghemat energi dan air. Itulah cara Tuhan menolong manusia mempertahankan hidup di tengah-tengah situasi sulit.
Namun bagi bangsa Israel yang terbiasa dengan alam mesir yang permai menjadi gusar saat mereka diperhadapkan dengan situasi dan kondisi padang gurun yang panas. Mereka gagal mengenal Tuhan yang selalu setia memimpin mereka. Itulah yang di ceritakan dalam kisah suci ini.
Kisah suci tentang peristiwa di Masa dan Meriba berpusat pada pelajaran tentang kepercayaan kepada Tuhan ketika kita menghadapi kesulitan, seperti halnya bangsa Israel yang mengeluh karena kehausan di padang gurun.
Tempat bernama Masa (Mencoba) dan Meriba (Pertengkaran) menjadi simbol ketidakpercayaan dan sikap menyalahkan Tuhan ketika mereka lupa akan pembebasan besar dan pertolongan yang Tuhan telah berikan sebelumnya. Renungan ini mengingatkan kita untuk tidak mengeraskan hati, melainkan percaya dan mengandalkan Tuhan, serta tidak mengulangi kesalahan Israel dengan menyalahkan Tuhan atau keadaan.
Bangsa Israel, yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir oleh kuasa Tuhan, tiba di Rafidim dan tidak menemukan air. Reaksi Bangsa Israel: Mereka mengeluh, marah, dan menyalahkan Musa, bahkan menyalahkan Tuhan yang dianggap tidak hadir di tengah mereka, sehingga mereka menamai tempat itu Masa (mencoba) dan Meriba (bertengkar).
Meskipun bangsa Israel bersungut-sungut, Tuhan melalui Musa menyediakan air dari batu di gunung Horeb.
Dari kisah ini, sebagai jemaat Tuhan yang bertumbuh marilah kita memetik butir-butir kebenaran yang menjadi berkat bagi kita:
- Jangan Keraskan Hati: Seperti bangsa Israel, kita cenderung mengeluh dan menyalahkan saat kesulitan menghampiri. Ajaran ini mengajak kita untuk membuka hati dan telinga terhadap suara Tuhan, serta mengarah segala daya untuk mencapai yang terbaik di masa yang akan datang, bukannya mengeraskan hati seperti mereka di Masa dan Meriba.
- Jas Merah atau Jangan Melupakan Sejarah: Ingat Kebaikan Tuhan dalam hidup Bangsa Israel dan jangan lupa akan semua mukjizat Tuhan yang telah mereka alami, seperti sepuluh tulah di Mesir dan terbelahnya Laut Taberau. Kita diingatkan untuk tidak melupakan kebaikan, pertolongan, dan kasih setia Tuhan di masa lalu dan saat ini.
- Percaya dalam Kesulitan: Ketika menghadapi masalah, kita seringkali menyalahkan Tuhan atau keadaan. Namun, kita diajak untuk tetap percaya bahwa Tuhan memiliki rencana dan akan memberikan yang terbaik, bahkan menyediakan yang terbaik dibalik peristiwa kelam yang menghadang hidup kita.
- Masa dan Meriba sebagai Peringatan: Kisah ini ditulis sebagai contoh bagi kita agar tidak mengulangi kesalahan Israel dan tetap setia kepada Tuhan, terutama ketika Dia membawa kita melewati “padang gurun” kehidupan.
Ibarat kita sementara melewati padang gurun kehidupan kita dengan tantangan hidup yang beragam, sebagai gereja yang terus bertumbuh, marilah kita mengoptimalkan potensi yang kita miliki untuk melayani Tuhan dan membenahi diri agar menjadi yang terbaik dalam pandangan Tuhan.
Potensi diri yang optimal dalam menuntaskan segala persoalan adalah bukti nyata bahwa Tuhan berproses dalam diri kita untuk mampu beradaptasi pada situasi-situasi tersulit dalam hidup ini.
Marilah kita GKS Praihowar terus maju dan selalu menjadi gunung batu yang memancarkan air segar pelepas dahaga bagi sesama. Tuhan beserta kita. Amin. [*]
Penulis: GI. Ebenhaeser Landuamah