Ujian iman yang dialami Ayub dan pemulihan Tuhan atas hidup Ayub, menyingkap sebuah misteri tentang cara kerja Allah yang sulit dipahami dengan cara berpikir kita. Penderitaan yang dialami Ayub merupakan tragedi yang sangat ironis. Iman Ayub diguncang habis-habisan. Ayub merasa tertekan sehingga keluhannya menjadi tak tertahankan sampai akhirnya Tuhan memberikan jawaban dengan memulihkan kondisinya.
Tuhan hadir sekalipun kita merasa mustahil keluar dari beratnya beban hidup karena seringkali kita mengandalkan logika dalam memahami cara kerja Tuhan. Seperti ketiga sahabat Ayub yang mengukur kerja Tuhan dengan pikiran dan pandangan yang menekankan hukum sebab akibat. Kesan yang ditampilkan ketiga sahabat Ayub ini sangat teologis, bahwa penderitaan itu terjadi karena Ayub melanggar perintah Tuhan, seperti pandangan sebagian kecil agamawan yang mengukur keberhasilan dan kegagalan dengan tafsiran yang menekankan keadilan Allah lalu mengabaikan luapan kasih Tuhan yang tak terbatas.
Tuhan marah terhadap ketiga sahabat yang telah menyalahkan Ayub dengan argumen sok rohani mereka itu, atas sikap sok rohani itu Tuhan marah, tapi karena tabiat-Nya yang penuh kasih, Tuhan menyuruh mereka untuk mempersembahkan kurban bakaran dan meminta Ayub untuk mendoakan mereka (7-9).
Tuhan pun mengakhiri penderitaan Ayub dengan sebuah kemenangan mutlak. Di depan sahabat-sahabatnya, Tuhan menyebut Ayub sebagai “hamba-Ku”. Kata hamba merujuk pada sikap tunduk penuh hormat dari seorang yang mempercayakan hidupnya secara mutlak di bawah otoritas Tuan. Dan Tuhan menemukan kwalitas iman dalam sikap perendahan Ayub. Inilah bukti kesetian Ayub sebagai hamba Tuhan. Sebagai akhir dari ujian yang begitu berat, Tuhan memulihkan keadaan Ayub, termasuk harta benda dan anak-anaknya (10-15). Bahkan, Ayub diberkati dengan umur panjang dan akhir hidup yang penuh damai (16-17). Di hadapan Tuhan, Ayub telah menang atas Iblis dengan membuktikan kemurnian imannya.
Iman Ayub kembali dikuatkan saat ia melihat semua kebaikan yang Tuhan berikan kepadanya. Karena itulah, Ayub kembali merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dan menyembah-Nya dengan hati yang berserah. Tuhan yang mengizinkan penderitaan terjadi atas Ayub. Tuhan juga yang memberkati Ayub dengan lebih lagi. Hal ini merupakan bukti kemahakuasaan Tuhan untuk menguji seberapa besar iman umat-Nya.
Dari kisah hidup Ayub, kiranya kita disadarkan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal yang kita alami. Tuhan menunjukkan bahwa jalan-Nya itu unik dan tak terselami oleh akal manusia. Kadang la mengizinkan kesulitan terjadi pada kita, bahkan mengizinkan kita terjatuh, untuk menguji seberapa besar iman kita kepada-Nya. Namun, di balik itu semua, la merancangkan yang terbaik untuk kita, yaitu iman yang murni, yang lebih kuat daripada penderitaan.
Bagaimanakah sikap kita atas penderitaan?
Kita diutus untuk menyentuh kehidupan sesama dengan sentuhan kasih bukan penghakiman atau perendahan martabat sesama yang menderita. Seberapa sering kita terjebak dalam pikiran dan pandangan seperti pandangan ketiga teman Ayub, seolah-olah kalau percaya Tuhan maka penderitaan itu akan selesai, begitu mudahnya kita melihat penderitaan itu sebagai akibat dosa, lalu dengan enteng kita pun menghakimi sesama. Menindas si penderita dengan cara pandang yang rapuh dan menempatkan kesuksesan di atas kajian teologi yang paling sempurna dan dengan bangga kita mengatur Tuhan untuk ikut cara berpikir kita.
Di sekeliling kita saat ini diperhadapkan pada keunggulan-keunggulan hidup yang membuat kita bangga dan tidak segan-segan memanfaatkan keunggulan itu untuk menindas dan mendiskreditkan sesama. Keragaman tidak dipandang sebagai kekayaan yang memperindah hidup bersama. Sesungguhnya sangat indah kalau kita saling memahami dan membuka hati untuk saling menerima sebagai satu keluarga Tuhan yang hidup dalam satu persekuan indah di dalam Tuhan.
Akhir kata, cerita hidup Ayub syarat dengan kisah yang penuh misteri iman tentang kebijaksanaan Tuhan yang tak terselami seolah-olah Tuhan sedang mempermainkan perasaan kita.
Mempermainkan atau sedang bermain dengan kita anak-anakNya?
Bermain dengan kita agar kita paham apa artinya hati lega setelah melewati tekanan, apa artinya bahagia setelah kita mengalami ketidakbahagian, apa artinya rasa puas setelah kita mengalami kekecewaan kita sedang berjuang untuk mencapai level yang lebih tinggi dengan melawati ujian yang lebih berat.
Coba kita simak sedikit kata-kata seorang pujangga dalam film Preman Pensiun: Kita pernah susah, habis itu senang, mungkin kita harus susah sekali lagi, lebih susah dari waktu itu supaya kalo kita senang lagi, benar-benar senang.
Kita bisa menghargai kesenangan itu lebih bersyukur kalau ternyata kita lupa bersyukur setidaknya kita punya kenangan pernah jadi orang susah. Bersama Tuhan kita akan melewati masa-masa tersulit dalam hidup dan kita sebagai warga jemaat GKS Praihowar tampil dalam semarak cinta kasih untuk saling menguatkan dan meneguhkan. Selamat bersyukur senantiasa. Amin. [*]
Penulis: GI. Ebenhaeser Landuamah