Yesus Memerdekakan Setiap Pribadi (Markus 10:13-16)

Masalah pengelompokkan/pengkotakan hampir bisa ditemui dalam kehidupan setiap masyarakat. Misalnya ada golongan ekonomi lemah, menengah, dan atas. Sikap yang diberikan pada tiap golongan juga menjadi berbeda. Sehingga tidak jarang kita lihat orang-orang yang berada di kelas bawah sering tidak dianggap dan mendapat perlakuan yang tidak adil.

Keadaaan ini tidak jauh berbeda di jaman Yesus. Masyarakat miskin dan tertindas berhadapan dengan para penguasa, entahkah itu penjajah maupun pemimpin agama yahudi.

Yang menyedihkan, murid-murid Yesus yang adalah orang biasa ternyata berubah sikap menjadi penguasa ketika berhadapan dengan orang lain yang lebih lemah, yaitu anak kecil dan orangtua mereka. Namun Yesus berbeda. Ia memberkati anak-anak itu dan melihat mereka dalam penilaian yang setara dengan semua orang.

Perikop Yesus memberkati anak-anak terdapat dalam tiga Injil Sinopsis. Namun Injil Markus menggambarkan peristiwa ini dengan lebih hidup. Anak-anak kecil (paidia) itu bukan hanya sekedar ilustrasi pengajaran pada murid-murid, namun mereka sungguh-sungguh dibawa kepada Yesus untuk diberkati.

Banyak lukisan yang dibuat tentang peristiwa ini. Dan kebanyakan lukisan itu menggambarkan anak-anak yang manis, bersih, putih, sehat, gemuk dan lain-lain. Gambaran ini berasal dari pelukis barat yang hidup berkecukupan. Namun apakah gambaran ini tepat? Sayangnya tidak.

Situasi masyarakat pada masa Yesus sangat memprihatinkan. Mayoritas mereka adalah orang miskin. Mereka punya pekerjaan tetap sebagai petani, nelayan dan sebenarnya itu cukup untuk kehidupan mereka. Namun biaya pajak yang tinggi dan bermacam-macam kebutuhan lainya membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kemiskinan itu, kita bisa pula membayangkan anak-anak yang dibawa pada Yesus saat itu pasti anak-anak yang miskin, kotor, kurang sehat, kurang gizi, bahkan mungkin terkena busung lapar.

Mengapa anak-anak itu dibawa kepada Yesus? Ada dua alasan. Pertama, mungkin anak-anak mau sekolah. Menurut kebiasaan orang Yahudi, anak-anak yang mau masuk sekolah dibawa kepada seorang guru atau rabi untuk meminta berkat. Kedua, barangkali anak-anak itu sakit atau terkena busung lapar. Yesus adalah seorang tabib yang sudah menyembuhkan banyak orang. Maka anak-anak itu dibawa pada Yesus untuk diberkati agar sehat dan bertahan hidup sampai dewasa.

Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan, murid-murid Yesus ‘memarahi’ mereka. Biasanya tindakan para murid ini ditafsirkan sebagai pembelaan terhadap Yesus yang sedang lelah agar tidak diganggu anak-anak kecil.

Namun penafsiran ini tidak berdasar jika dibandingkan dengan reaksi Yesus menjadi marah karena tindakan murid-muridNya. Kata ‘marah’ yang dipakai adalah aganakteo dan hanya dipakai satu kali, hanya dalam perikop ini saja. Bahkan kemarahan Yesus di Bait Allah pun tidak memakai kata aganakteo ini.

Kemarahan Yesus sangat mendasar, karena Ia melihat murid-muridNya hendak menunjukkan kekuasaan mereka untuk menentukan siapa yang boleh datang kepada Yesus, sekaligus sikap yang mengabaikan kebutuhan anak-anak itu.

Kemudian Yesus memakai anak-anak itu sebagai gambaran dari orang-orang yang empunya Kerajaan Allah yaitu orang-orang yang seringkali direndahkan, dipinggirkan dan diremehkan karena mereka lemah (ay.14).

Demikian pula Kerajaan Allah akan dirasakan saat orang-orang menyambut orang-orang yang terabaikan, miskin dan bertindak (ay.15). Dan ini bukan hanya wacana.

Yesus memberikan contoh bagaimana sikap yang benar terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Ia memeluk, meletakkan tanganNya, dan memberkati mereka. Demikianlah Yesus mengembalikkan tatanan masyarakat yang mengabaikan orang-orang kecil.

Beberapa point yang bisa diambil dari peritiwa di atas, yaitu:

  1. Kita tidak bisa menghindari pengelompokkan-pengelompokkan yang ada dalam masyarakat. Namun kita bisa memilih respon kita. Jika dunia mengabaikan mereka yang kecil dan berada di golongan bawah, meneladani sikap Yesus kita bisa melakukan hal sebaliknya mempedulikan dan berbuat sesuatu bagi mereka.
  2. Hal lain yang harus diwaspadai adalah kecenderungan manusia untuk menindas orang lain saat ia memperoleh kuasa. Kita perlu waspada karena sisi itu ada dalam diri setiap manusia. Ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita berjuang bersama bahkan giat menyuarakan berbagai ketidakadilan yang terjadi. Tetapi ketika kita naik tingkat dan punya sedikit kuasa, kita justru menjadi penjajah untuk orang lain yang lemah. Kita belajar dari murid-murid Yesus saat itu untuk memahami bahwa manusia memang rentan dibuai oleh kekuasaan.
  3. Sebagai pengikut Kristus, milikah hati yang peka untuk dapat melihat dan menyentuh setiap mereka yang lemah untuk menyatakan kasih Tuhan bagi mereka. Amin! [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *