Merayakan Kemerdekaan dengan Mengakui Kesalahan (Mazmur 32:1-11)

Di bulan kebangsaan, banyak yang memahami bahwa kemerdekaan adalah suatu kesempatan untuk hidup sebebas-bebasnya. Mau yang dilakukan itu salah tidak mengapa karena menurutnya hidup ini harus dirayakan. Tetapi apakah demikian pemahaman tentang merdeka? Tentunya tidak. Kemerdekaan yang dikerjakan Allah dalam hidup manusia, prinsipnya adalah untuk mendatangkan pemulihan dan kebahagiaan sejati. Artinya bahwa kemerdekaan Kristen bukan saja bebas dari dosa tetapi juga untuk tidak lagi kembali hidup dalam lumpur dosa.

Inilah yang menjadi pengalaman Raja Daud dalam pembacaan ini. Raja Daud sangat menderita dan mengalami kesesakan atas beban, gumulnya dan dosanya. Dalam pengalaman imannya raja Daud menyatakan bahwa kehidupan yang tidak bahagia itu bisa saja disebabkan oleh berbagai hal, namun diatas segala hal yang ada, DOSA adalah penyebab utama yang membuat kehidupan seseorang tidak mengalami kebahagiaan sejati. Mazmur 32 merupakan mazmur pengajaran Daud atau dalam bahasa aslinya Mizpa yang menjadi pengakuan atas dosa Daud dalam pasal 51. Mazmur 32 ini menunjukkan prinsip kebahagiaan melalui pengakuan dosa yang akhirnya membawa kebahagiaan, yaitu sebagai akibat dosa yang telah diampuni Tuhan. Tujuan penulisan mazmur ini agar setiap orang yang ingin diberkati hidupnya dan mau mengalami kebahagian sejati hendaknya mengambil keputusan untuk jujur dan mengakui dosa -dosanya.

Daud menyadari atas perbuatannya dan mengaku dengan sungguh dihadapan Tuhan yang maha tahu karena hanya di dalam Tuhan sajalah pengampunan dosa itu terjadi. (Ay 1-2).

Daud telah mengalami bagaimana rasanya menyembunyikan dosa, dan hal tersebut mengganggu kehidupannya. Bukan hanya sekedar mengganggu tetapi juga sampai membuatnya tertekan. Daud berkata “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu…” Berdiam diri oleh karena Pemazmur malu mengaku dosa-dosanya, dan tulang-tulangnya lesu dimaksudkan bahwa kekuatannya merosot dan hampir tidak ada lagi semangat untuk hidup, hari-harinya hanya dilalui dengan keluh kesah (ay 3-4). Daud mulai mau untuk membuka dirinya, menyingkapkan segala kesalahannya, dan mencurahkan segala perasaan bersalahnya.

Daud mengatakan “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Ketika raja Daud mengakui Dosanya, Ia merasa bahagia dan melalui Mazmur ini, Daud menunjukkan teladan bahwa pengalamannya bersama Allah atau caranya mengalami Allah patut untuk dibagikan kepada banyak orang. Pengalamannya bersama Allah harus mendatangkan kemuliaan bagi Allah.

Dengan kemampuannya untuk bermazmur, ia menarasikan kebaikan Allah dalam kehidupannya. Daud mempertegas bahwa relasi yang terjalin antara Allah dengan manusia adalah relasi dua arah. Allah melakukan bagianNya untuk mengasihi manusia dan manusia membuka dirinya dihadapan Allah dengan penuh perendahan diri. Kesediaan manusia untuk membuka diri dapat diawali dengan pengakuan yang tulus dan jujur akan keberdosaannya dan kehampaannya tanpa peran Allah dalam kehidupannya. Cara manusia berterima kasih pada Allah yang senantiasa bersedia untuk mengampuni adalah dengan tidak berlaku angkuhdengan tidak memendam dan menyembunyikan kesalahan. Kerendahan hati dan kejujuran manusia menjadi bentuk rasa syukur dan terima kasih atas kebaikan Allah. Melalui teks ini kita dapat mempelajari tiga hal berikut:

1. Refleksi mengenai kebaikan Allah lahir dari kesediaan manusia untuk merenungi perjalanan kehidupannya bersama Allah. Jika Allah memperlakukan manusia berdasarkan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, maka hal yang pantas dilekatkan pada manusia ialah penderitaan dan hukuman.

Pengakuan kesalahan membebaskan seseorang dari tekanan psikologis. Penyangkalan manusia terhadap keberadaan dirinya yang berdosa atau pun usaha manusia untuk menutupi keberdosaan dirinya, hanya akan menempatkan manusia pada sebuah situasi ketidaknyamanan. Pengakuan akan keterbasatan dan keberdosaan manusia dapat juga dipandang sebagai sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia. Memendam kesalahan hanya akan menyiksa batin, namun mengakui kesalahan secara jujur dan tulus di hadapan Allah benar-benar membebaskan dan memulihkan.

Penekanan pengakuan yang dimaksud oleh pemazmur ialah, pengakuan secara personal (pribadi) yang akan mengakrabkan relasi manusia dengan Allah. Daud justru merasakan hal yang berbeda, dalam keberdosaannya Allah melawatnya dan memperlakukannya dengan penuh kasih, karena itulah ia harus berbahagia. Tidak mudah bagi kita untuk mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan.

Kebanyakan manusia berusaha menutupi kesalahan yang pernah dilakukan dalam bentuk penyangkalan akan kesalahan (bukan saya, saya kenal dia, pura-pura tidak tahun bahkan sumpah dengan membawa serta nama Tuhan….Sungguh mati bukan saya). Kita berusaha menyembunyikan diri agar kesalahan itu tidak tampak bahkan ada yang melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Melalui kesaksian raja Daud kita belajar bahwa mengakui kesalahan, pelanggaran dan dosa mendatangkan berkat kebahagian sejati.

2. Orang yang diampuni dosanya akan bersorak-sorai. Hal yang penting dalam teks bacaan ini ialah pemazmur mempertegas bahwa manusia banyak melakukan pelanggaran yang menyakiti hati Allah.

Ketika Allah bersedia untuk mengampuni maka itu adalah sebuah peristiwa yang membahagiakan dan menyukakan manusia. Pengampunan yang dikaruniakan Allah membuat manusia yang telah mengalami kehilangan kemuliaan mendapatkan penghargaan sebagai manusia yang mulia. Statusnya sebagai umat Allah kembali dimiliki dengan penuh kebanggaan. Dengan pengampunan, relasi antara manusia dengan Allah menjadi pulih.

Di bulan kemerdekaan ini, kiranya kita pun berada dalam sebuah perjalanan penghayatan terhadap penderitaan Kristus. Kita diajak untuk merefleksikan perjalanan penderitaan Kristus demi melaksanakan misi penebusan. Cara yang mahal dan penuh risiko telah ditaklukkan oleh Kristus demi memenangkan manusia dari kuasa dosa, kita perlu menghayati bahwa pengampunan adalah berkat dari Tuhan yang membawa kita pada kehidupan dan kebahagian yang sejati. Letak kebahagiaan sejati di dunia ini hanya pada kemurahan Allah bukan pada segala nikmat di dunia ini. Membayangkan kita yang berdosa ini mengalami penghukuman, itu bayangan yang tidak mau kita bayangkan karna ngeri berhadapan dengan maut.

Hanya pengampunan Tuhan di dalam perendahan diri yang sungguh yang membuat kita mengalaminya. Tuhan memberkati. Amin! [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *