Yesus Dasar Hidup Orang Kristen (1 Korintus 3:10-11)

Ketika berbicara tentang Dasar, salah satu Contoh: Sebuah Bangunan sangat tergantung pada dasar atau fondasinya. Apabila fondasi yang dibuat kuat maka kokohlah bangunan itu. Sebaliknya apabila fondasi yang dibangun asal-asalan maka bangunan itu Pun tidak akan kokoh. Paulus mencontohkan dirinya sebagai hamba Tuhan. Dia ibaratkan dirinya sebagai seorang tukang bangunan, di mana pemilik-Nya adalah Kristus.

Oleh kasih karunia Allah, Paulus dianugerahkan oleh Kristus kemampuan dan keahlian sebagai seorang tukang bangunan yang cakap. Untuk membangun sebuah bangunan apa pun, harus dimulai dengan membangun fondasi atau dasar yang kuat. Dasar itu adalah Yesus. Di atas dasar dapat dibangun apa pun, model dan oleh siapa pun. Tapi dasarnya semua sama, yakni Kristus. Selain itu, baik tukang maupun pemilik bangunan dan bangunannya, semua adalah milik Kristus. Semua itu ada dan terjadi karena dasarnya adalah Kristus. Maka kita jangan sesat ataupun menyesatkan orang dan memelintir kebenaran bahwa semua hanya karena kita. Tidak! Kita hanya alat-Nya saja.

Sedangkan dasar utama dan Kreator Agung kita adalah Tuhan Yesus. Yesuslah dasar dari segala dasar kehidupan umat manusia, siapa pun dan di mana pun dia berada. Paulus telah meletakkan dasar persekutuan ketika pertama kali datang di Korintus. I Korintus 3:6 menjelaskan tentang hal itu: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi petumbuhan.” Tiap orang wajib bertanggung jawab terhadap Tuhan Allah mengenai pekerjaannya. Hendaklah kita menyadari bahwa ada orang yang telah lebih dahulu dipakai oleh Tuhan Allah meletakkan Yesus Kristus sebagai dasar persekutuan. Tugas kita adalah meneruskan kerja pelayanan menguatkan, menumbuhkan dan memelihara iman. Kita harus menjadi ahli bangunan yang cakap dan terampil dengan interior yang menarik seperti rasul Paulus. Tetapi kita juga wajib mengawasi pekerjaan pelayanan untuk tidak pernah keluar dan dasar yang sesungguhnya yaitu Yesus Kristus. Sehingga akan banyak orang datang dalam persekutuan.

Sebagai manusia kita mengakui, tidak sedikit dari kita yang menjalani hidup dengan asal-asalan. Kita hidup menurut keinginan hati sendiri tanpa menyadari bahwa hidup adalah anugerah Tuhan, hidup hanyalah sementara. Kita bekerja asal –asalan yang penting dapat gaji, kita mengejar keuntungan, kita melayani kalau ada waktu saja, kita hidup menurut kemauan kita dan melakukan apa saja tanpa takut kepada Tuhan. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita sedang memakai bahan bahan bangunan yang mencelakakan kita sendiri pada akhirnya. Berpeganglah pada “yang kekal” bukan yang “fana“ Allah adalah dasar kehidupan, jika kehidupan kita dibangun atas dasar Kristus maka sehebat apa pun badai kehidupan menghantam kita, rumah kehidupan kita akan tetap kokoh. Dan dalam Kristus yang kekal, kita pun kekal akan menikmati kehidupan bersamanya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *