Adalah hal yang benar bila ketika sakit kita pergi ke tempat yang tepat untuk mendapatkan kesembuhan. Bacaan sabda Tuhan saat ini, berbicara tentang sikap seorang ibu yang tahu dengan benar kemana kakinya harus melangkah untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Perempuan ini tahu untuk pergi ke alamat yang tepat yaitu kepada Yesus sebagai sosok penyembuh dari sakit yang dialami oleh anaknya yang kerasukan setan. Walaupun ada ha-hal yang juga sebenarnya dilekatkan pada diri perempuan ini, sehingga tidak layak menurut adat-istiadat yahudi untuk menerima apa yang ia inginkan dari Yesus. Ketidaklayakan itu:
- Dijelaskan dalam (Markus 7:24-30) bahwa perempuan Kanaan ini adalah seorang perempuan Siro-fenisia yang berasal dari daerah Tirus dan Sidon. Dari asal-usul bangsanya, didapati ia termasuk golongan orang yang seharusnya dibasmi karena kerusakan rohani dan moral bangsa mereka. Mereka adalah bangsa kafir yang tidak mendapatkan tempat bahkan pelayanan dari orang-orang Yahudi.
- Kaum perempuan apalagi jika sudah memiliki anak (tidak tahu ayahnya dimana tidak dijelaskan apakah sudah mati atau memang hamil diluar nikah), dari statusnya saja sebagai seorang perempuan menurut hukum Yahudi perempuan itu disamakan seperti seorang budak atau tidak memiliki kekuatan apa-apa, tidak ada tempat untuk mereka mengadu bahkan meminta pertolongan..
- Anaknya juga bukan laki-laki tetapi seorang perempuan yang juga sedang mengalami sakit. Sangat jelas sebenarnya bahwa memang perempuan ini tidak berdaya mengurus anak bahkan terlahir sebagai bangsa yang rusak secara rohani dan moral.
Dari ketidaklayakan inilah, para murid berkata kepada Yesus untuk mengusir dia dengan menyuruhnya pergi. Tidak hanya para murid, Yesus pun dengan caraNya sepertinya mengusir perempuan ini dengan sikap dan kata-katanya yang cukup kasar yaitu sikapnya yang tidak merespon (ay.23) dan kata-kataNya yang menggambarkan bahwa perempuan ini seperti seekor anjing yang sedang menanti remah-remah jatuh dari meja. Yang sejatinya sikap dan kata-kata yang diucapkan Yesus adalah untuk memperlihatkan dan menegaskan kepada para ahli taurat dan orang-orang Yahudi bahwa perempuan ini berhak mendapatkan cinta Tuhan atas imannya yang besar kepada Yesus. Dan itu semua terjadi karena keteguhan hati yang dibarengi dengan kerendahan hati.
Dalam ketidaklayakan kita pun Allah bekerja untuk kita. Dia mau menanggung kita. Dia mau memakai kita dengan semua kekurangan, keterbatasan kita untuk menyatakan kuasaNya. Bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Manusia banyak kali melakukan kesalahan. Mau dia orang yang kaya, bergelimang harta ataupun tidak memiliki apa-apa. Allah hadir untuk semua orang.
Jikalau konsekuensi iman kita kepada Yesus adalah dihina dan dipermalukan, masihkah kita mau mengikut Yesus?
Jikalau nilai diri dan harga diri kita di injak-injak demi memohon pertolongan Tuhan, masihkah kita mau terus memohon, menantikan serta mengikut Yesus?
Dan, jikalau permohonan kita tidak juga dikabulkan oleh Allah, masihkah kita mau mengikut dan mengandalkan Yesus?
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Kanaan dalam perikop ini mengajarkan kita kedalaman hidup beriman. Percakapan antara Yesus dengan perempuan Kanaan tersebut setidaknya mengajarkan kita beberapa hal.
Pertama, relasi yang terbangun antara Yesus dengan perempuan Kanaan adalah relasi antara pihak yang menempatkan diri sebagai pemohon kepada pihak yang berkuasa mengabulkan permohonan. Relasi antara yang menundukkan diri di bawah kekuasaan dengan Yang Maha Kuasa. Ada kesadaran diri dan posisi, siapa dirinya di hadapan Yang Maha Kuasa. Ada pengakuan dan sikap tunduk terhadap kekuasaan TUHAN.
Hidup beriman adalah hidup yang menjunjung tinggi kerendahan hati, anti terhadap kesombongan dan keangkuhan hidup. Bukankah berulang kali Alkitab menegaskan betapa TUHAN menentang orang congkak/sombong/tinggi hati?
Kerendahan hati yang dimiliki perempuan Kanaan menjadi pintu baginya untuk mendapatkan belas kasihan Yesus atas pergumulan yang ia hadapi. Sering tidak kita sadari bahwa sikap tinggi hati, congkak, sombong telah menjadi penghalang kita berjumpa dengan anugerah-Nya. Orang beriman adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong.
Kedua, apa yang dimohon tidak selalu bisa langsung mendapat jawaban/solusi. Hal itu sepenuhnya bergantung kepada perkenanan dan kehendak Tuhan selaku pribadi Yang Berkuasa untuk mengabulkan.
Dalam beberapa peristiwa, Tuhan menguji ketangguhan mental penerima berkat-Nya, sebagaimana perempuan Kanaan dalam perikop ini. Terbukti, berkat Tuhan tidak pernah salah sasaran karena perempuan Kanaan itu ternyata seorang yang tahan uji dan bermental tangguh. Ia rela dipermalukan dan siap menanggung konsekuensi apa pun dari keberaniannya untuk percaya (beriman) kepada Yesus demi kesembuhan anaknya. Ketangguhan mental menghadapi rasa malu (apalagi jika dikaitkan dengan nilai diri dan harga diri) kerap menjadi sandungan yang membuat seseorang tidak teguh berdiri pada jalan iman.
Ketiga, ketekunan merupakan salah satu tonggak penting dalam mengikut Tuhan. Perempuan Kanaan adalah prototipe perempuan yang tekun, yang tidak kenal menyerah untuk mengajukan permohonannya kepada Yesus. Yesus sangat menghargai ketekunannya sehingga semua berbuah manis pada akhirnya. Ketidak sabaran menantikan hasil dan ketidaksanggupan untuk menekuni jalan iman telah membuat banyak orang undur dari iman. Iman ternyata tidak hanya bicara soal keyakinan sesaat, tetapi keyakinan secara konsisten, sekali percaya, tetap percaya.
Mari belajar dari perempuan Kanaan yang tekun menghadap Yesus untuk mengajukan permohonannya, tanpa malu dan jemu karena ia percaya bahwa jika Yesus berkenan, maka apa yang ia minta akan dikabulkan.
Secara sederhana, kita bisa memulai dengan mengevaluasi aktifitas peribadahan dan persekutuan kita: sudahkah kita menjalaninya dengan tekun?
Ingatlah! Rasa jemu dan bosan pun bisa menjadi sandungan bagi kita untuk berbalik sehingga tidak lagi tekun beribadah maupun bersekutu. Jadi, jangan pernah bosan ataupun mengeluh tentang kapan berkat dan doa kita dijawab Tuhan, karena sejatinya, waktu Tuhan adalah yang terbaik untuk kita.
Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindak. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Tuhan memberkati! Amin! [*]