Dalam injil Yohanes kita akan menemukan banyak hal tentang pelayanan Tuhan Yesus di Yudea dan Yerusalem. Injil ini dituliskan dengan tujuan untuk menguatkan setiap orang yang percaya dan mengenal Yesus Kristus dengan baik ditengah banyaknya ajaran palsu. Namun perlu di ingat, haruslah disertai dengan motivasi atau tujuan yang benar.
Dalam bacaan kita saat ini, jika kita melihat dari ayat 1, dimulai dengan Yesus memberi makan 5000 orang dengan bermodalkan 5 roti dan 2 ikan, malah ada yang tersisa 12 bakul. Tentu ini adalah hal yang luar biasa, mujizat yang besar.
Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Melihat peristiwa ini, semakin banyak orang yang mau mencari dan mengikut Yesus. Namun sayang, tujuan mereka bukanlah pada pribadi Yesus. Tetapi pada apa yang Tuhan Yesus kerjakan.
Sehingga Yesus mengecam mereka, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena telah melihat tanda-tanda, melainkan kamu telah makan roti itu dan kenyang” (ay 26). Ternyata tujuan mereka adalah pada hal-hal yang bersifat sementara. Mereka digerakkan bukan dengan hati yang penuh, melainkan perut yang kenyang. Banyak tanda yang telah dikerjakan oleh Yesus, seperti memberi makan 5000 orang, menyembuhkan orang sakit, berjalan di atas air. Semua ini sebenarnya mau menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup dan berkuasa. Tetapi sayang, orang-orang justru berfokus pada hal-hal semu.
Apa yang dilakukan oleh orang banyak dalam bacaan kita malam hari ini, juga menjadi suatu peringatan, teguran yang menolong kita untuk merefleksi diri sebagai orang percaya. Seringkali orang yang katanya Kristen dan percaya Yesus, datang kepadaNya hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani semata. Makanan kah, kesehatankah, dan masih banyak lagi. Artinya kita mencari Tuhan bukan karena mau mengenal Dia dengan benar, bukan untuk membangun hubungan yang begitu intim layaknya seorang Bapa dan anak.
Sesuai bacaan kita, Yesus adalah roti yang hidup. Ini tidak terbatas pada apa yang mudah hilang, tetapi ini merujuk juga pada Kristus yang pada akhirnya menyerahkan diri dalam ketaatan sebagai penebus dosa kita. Tubuhnya tercabik-cabik, dan dalam perjamuan kita menikmati roti sebagai peringatan bahwa Tuhan mau berkorban bagi kita.
Biarla kita bergairah, memiliki kerinduan mencari Tuhan untuk dipuaskan jiwa/roh kita. Melalui Firman Injil Allah.
Kita dibawa pada pengertian, benar hanya Tuhan sumber hidup, padaNya ada hidup yang kekal. Sehingga “Mat 6:33 menjadi nyata bagi kita, tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Jangan fokus pada apa yang mudah hilang, namun fokuslah untuk melekat dan mengenal Kristus Allah dengan benar. Apa Ekspektasi kita mengikut Tuhan? Tidak semudah yang kita bayangkan agar dipuaskan sesuai dengan keinginan pribadi kita. Jangan berpikir hanya pada hari ini tetapi Roti hidup mau menegaskan juga agar berpikirlah untuk pertumbuhan iman. Makanan jasmani mempengaruhi tubuh, makanan rohani mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan. Amin. [*]
Vic. Ratna Kristiani Ina, S.Th