Hidup ini adalah seni dalam memilih. Hampir disetiap waktu dan kesempatan hidup, semua orang terus diperhadapkan dengan berbagai hal, yang mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses untuk memilih itu tidak dapat dihindari. Dan pada dasarnya setiap pilihan yang diambil, haruslah dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu banyak orang mengatakan “awas ooo.. hati-hati.. jangan sembarang memilih”.
Di sini jelas bagi kita bahwa sebuah pilihan harus berangkat dari pertimbangan hati nurani yang murni supaya menjadi tepat sasaran, membawa sukacita dan berhasil. Hati adalah ruang perasaan dimana sebuah keinginan dilahirkan untuk mencapai tujuan yang baik dan sungguh berkenan dihadapan Allah.
Firman Tuhan yang menjadi perenungan saat ini, memberikan suatu kesaksian yang menarik bagi kita pribadi-pribadi yang memiliki hati dalam tekad bersama untuk pekerjaan baik Tuhan melaui seorang utusan yang bernama Nehemia.
Nehemia adalah seorang Yahudi yang bertugas sebagai pelayan pribadi Artahsasta, Raja Persia. Salah satu tugasnya adalah menyediakan anggur setiap hari dan memastikan bahwa minuman Raja tidak mengandung racun. Tugas inilah yang membuat Nehemia menjadi orang kepercayaan Raja Persia (Neh 1:11).
Tetapi dalam kehidupan nyamannya di Persia, Nehemia bergumul dalam doa pada Tuhan (Neh 1:4) tentang keadaan keluarganya, umat Israel di Yerusalem yang mengalami kemalangan akibat runtuhnya tembok Yerusalem yang menjadi kebanggaan mereka. Memilih atau mengambil keputusan untuk ada dalam pergumulan bersama, bukanlah keputusan yang mudah. Tetapi Nehemia mengambil langkah ini. Ia meminta kepada Allah, menggiringnya kehadapan raja Artahsasta untuk mendapat ijin bahkan mengutusnya membangun kembali tembok Yerusalem (Neh 1:5-11).
Tekad yang dimiliki oleh Nehemia, tentunya bukanlah “tekad” yang hanya sekedar “nekad”. Tekad yang dimiliki oleh Nehemia benar-benar tergambar dari upaya yang dilakukannya. Setelah mendapat ijin dari Raja Persia, ia pergi mengelilingi dan memeriksa seluruh tembok Yerusalem seorang diri (ay. 11-16). Bahkan ditengah ‘tantangan dan persoalan yang berat, Nehemia juga berhasil menghimpun umat Israel untuk bersama-sama berproses dengan situasi yang dihadapi (ay 17-18). Semua upaya yang dilakukan oleh Nehemia, dipercaya dan diyakini oleh Nehemia sebagai karya dan kemurahan tangan Allah atas dirinya bahkan umat Israel.
Allah yang mereka sembah adalah Allah semesta langit yang telah berkarya untuk setiap pilihan dalam pekerjaan baik yang diambil oleh Nehemia untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Pekerjaan baik yang didasarkan atas ketulusan hati yang murni dan tekad yang kuat diyakini oleh Nehemia dan umat Israel bahwa “Setiap keputusan yang dimulai dengan melibatkan Tuhan, tidak harus membuat mereka menyesal dengan keputusan yang mereka ambil. Bahkan ketika mereka pun harus diperhadapkan dengan beberapa orang seperti Sanbalat, Tobia, dan Gesyem yang mengolok-olok dan menghina bahkan meragukan usaha dan pekerjaan mereka. Mereka tetap sadar dan mengakui bahwa mereka hanyalah hamba yang melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan (ay.20). Mereka hanyalah hamba yang selalu siap dengan setiap pilihan yang diambil untuk melakukan pekerjaan baik Tuhan.
Ada beberapa catatan penting yang perlu kita renungkan saat ini:
1. Pilihan dan keputusan Nehemia membuat umat Israel mampu membangun tembok Yerusalem.
Pilihan dan keputusan ini bukanlah hal yang biasa atau kebetulan bagi Nehemia. Bahkan bukan hal yang lahir karna keinginan manusiawi Nehemia melainkan bagian pergumulan yang terus ia serukan dalam doa dan permohonan kepada Allah. Nehemia menghimpun dan menyatukan tekad untuk bekerja bersama dalam kemurnian hati yang tulus dihadapan Allah.
Nehemia tidak melakukannya untuk keuntungan dan kepentingan diri atau pun mengandalkan kekuatannya sendiri. Nehemia membuat kita belajar agar terus menjaga kebulatan hati untuk tetap saling bukan silang. Saling mengisi, saling mendengar, saling bekerja sama. Memiliki kerendahan hati untuk siap berproses bersama Tuhan dan bukan hanya protes.
2. Nehemia memeriksa pekerjaannya dengan pertimbangan yang murni dan tekad yang kuat.
Ada perbandingan antara orang yang memiliki tekad dan orang yang hanya sekedar nekad dan itu akan terlihat dari cara dan sikap yang diambil. Cara dan sikap yang diambil oleh Nehemia membuktikan bahwa tekadnya bukan hanya sekedar nekad.
Upaya luar biasa telah ia lakukan dengan mengelilingi dan memeriksa seluruh tembok Yerusalem selama tiga hari tiga malam. Dan menghimpun umat Israel berproses bersama. Teladan dan pengalaman Nehemia beserta umat Israel mengajarkan kita semua saat ini, untuk bagaimana kita memeriksa dan mempertimbangkan apa yang menjadi tekad dan kerinduan hati kita yang murni.
Memeriksa diri kita dihadapan Tuhan sejauh mana kemurnian hati kita untuk mendukung dan membangun pekerjaan Tuhan bahkan dalam seluruh kerja dan usaha kita. Kiranya damai sejahtera Kristus menolong dan memampukan. Satu hal yang harus diingat bahwa Nehemia menyadari penyertaan Allah sebagai semesta langit.
Nehemia dan umat Israel menyadari bahwa keberhasilan mereka dalam menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem semuanya hanya karena campur tangan Allah. Mereka hanyalah hamba Allah yang siap melakukan pekerjaan itu tanpa ingin mencari nama dan kepentingan serta keuntungan.
Oleh karena itu, hanya Ketika kita memiliki hati yang menyadari akan penyertaan Tuhan atas setiap rencana dan pergumulan kita, maka kita dapat melihat dan merasakan bahwa semua pilihan yang kita ambil akan menjadi baik adanya. Melibatkan Tuhan dalam setiap pilihan yang diambil meyakinkan kita bahwa Tuhan terus berperkara atas kita. TYM. Amin. [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th