Dalam kehidupan berumah tangga, sering kali muncul situasi dimana seseorang disalahpahami, dituduh, bahkan dipersalahkan, padahal tidak melakukan kesalahan. Rasa tidak adil itu bisa melukai hati, merusak hubungan, dan menimbulkan jarak di antara anggota keluarga. Melalui Lukas 23:1–25, kita diajak melihat bagaimana Yesus menghadapi ketidakadilan yang berat. Ia yang tidak bersalah justru dihukum demi manusia yang bersalah.
Yesus dibawa ke hadapan Pilatus dengan berbagai tuduhan yang tidak benar. Pilatus sendiri tidak menemukan kesalahan pada Yesus, bahkan Herodes juga tidak. Namun, tekanan dari orang banyak membuat Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Sebaliknya, Barabas, seorang penjahat justru dibebaskan.
Disini terlihat jelas Yesus yang tidak bersalah mengambil tempat orang yang bersalah. Ia rela menerima hukuman yang seharusnya bukan bagianNya. Ia tidak membela diri dengan cara dunia, tidak melawan, tetapi menyerahkan diriNya dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Ini adalah gambaran kasih yang luar biasa yaitu kasih yang rela berkorban demi keselamatan orang lain.
Dalam hidup berumah tangga, firman ini mengajak kita belajar beberapa hal penting. Pertama, belajar tentang kerendahan hati dan pengorbanan. Kadang dalam rumah tangga, bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi siapa yang mau merendahkan diri demi menjaga keutuhan hubungan. Yesus memberi teladan untuk tidak selalu menuntut pembenaran diri, tetapi mengutamakan kasih.
Kedua, berhenti saling menyalahkan. Orang banyak dalam kisah ini dengan mudah terprovokasi dan memilih menghukum yang benar. Dalam keluarga, jangan sampai kita menjadi seperti kerumunan itu yaitu cepat menghakimi tanpa memahami. Bangunlah kebiasaan untuk mendengar, mengerti, dan mengampuni.
Ketiga, menyadari bahwa kita hidup oleh kasih karunia. Seperti Barabas yang dibebaskan, kita pun sebenarnya adalah “orang-orang yang seharusnya menerima hukuman,” tetapi diselamatkan oleh kasih Kristus. Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih sabar, lebih mengasihi, dan lebih mudah mengampuni anggota keluarga.
Yesus yang tak bersalah telah dihukum demi kita. KasihNya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi, terutama dalam rumah tangga. Ketika kasih Kristus menjadi dasar, maka pengorbanan bukan lagi beban, pengampunan bukan lagi hal yang sulit, dan keluarga menjadi tempat di mana kasih Allah nyata dirasakan.
Biarlah setiap anggota keluarga belajar meneladani Yesus: rela mengasihi, meski harus berkorban, dan tetap setia, meski tidak selalu dipahami. Amin. [*]
Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th