Iman Keluarga: Mengerti atau Kehilangan Arah (Markus 8:31 – 9:1)

Sebuah keluarga dapat berjalan dengan baik apabila memiliki arah yang jelas. Tanpa arah, perjalanan menjadi membingungkan. Walaupun terlihat aktif, sibuk, dan penuh aktivitas, jika tidak tahu tujuan, maka langkah menjadi tidak terarah.

Demikian pula dengan iman keluarga. Iman bukan sekadar tradisi, bukan hanya rutinitas ibadah, dan bukan sekadar identitas sebagai orang Kristen. Iman berbicara tentang arah hidup: apakah keluarga berjalan menurut kehendak Allah atau mengikuti pola pikir manusia.

Dalam Injil Markus 8:31–9:1, Yesus menjelaskan arah tentang sebuah perjalanan iman yaitu jalan salib. Namun para murid mengalami kesulitan untuk memahami arah tersebut. Dan karena itu, Perikop ini menolong setiap keluarga untuk bercermin: sudahkah arah iman dimengerti dengan benar, atau justru mulai kehilangan arah?

Markus 8:31 : Yesus mulai mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.

Kata “mulai” menunjukkan bahwa ini adalah fase baru dalam pengajaran Yesus. Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, kini Yesus menjelaskan arti Mesias yang sebenarnya. Kata “harus” (dei) menunjuk pada keharusan ilahi yaitu bagian dari rencana Allah yang tidak dapat dibatalkan. Penderitaan, penolakan, dan kematian bukan kegagalan pelayanan Yesus, melainkan jalan keselamatan. Bahkan kebangkitan disebutkan sebagai penegasan bahwa penderitaan bukan akhir cerita.

Markus 8:32 : Yesus menyampaikan hal itu dengan terus terang, tanpa kiasan. Petrus kemudian menarik Dia ke samping dan menegur Dia.

Tindakan Petrus menunjukkan keberanian sekaligus kesalahpahaman. Ia merasa berhak mengoreksi Yesus. Ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa sangat dekat dengan Tuhan, tetapi belum memahami kehendak-Nya secara utuh. Petrus menginginkan Mesias yang kuat dan menang secara politis, bukan Mesias yang menderita.

Markus 8:33 : Yesus berpaling dan melihat murid-murid-Nya, lalu menegur Petrus: “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Teguran ini keras karena pikiran Petrus sejalan dengan pencobaan untuk menghindari salib. Dalam konteks ini, “Iblis” berarti lawan atau penghalang.

Yesus menegaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada pola pikir: pikiran Allah berpusat pada keselamatan dan ketaatan, sedangkan pikiran manusia cenderung mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan.

Markus 8:34 : Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya, lalu berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”Menyangkal diri berarti tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai pusat.

Memikul salib pada zaman itu berarti siap menghadapi penderitaan bahkan kematian. Salib adalah simbol penghinaan dan pengorbanan total. Mengikut Kristus berarti berjalan di belakang-Nya, mengikuti arah yang telah Ia tentukan.

Markus 8:35 : Yesus menjelaskan bahwa siapa yang berusaha menyelamatkan hidupnya akan kehilangan hidup, tetapi siapa yang kehilangan hidupnya karena Kristus dan Injil akan menyelamatkannya.

Hidup yang dipegang erat demi kepentingan diri sendiri akan kehilangan makna. Sebaliknya, hidup yang diserahkan kepada Kristus akan menemukan keselamatan yang kekal.

Markus 8:36 : “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Disini Yesus memakai gambaran ekstrem untuk menegaskan prioritas atau tujuan. Dunia dengan segala kekayaan, jabatan, dan kehormatan tidak sebanding dengan nilai jiwa manusia. Keuntungan duniawi bersifat sementara, sedangkan jiwa bersifat kekal.

Markus 8:37 : Yesus menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat diberikan sebagai ganti jiwa. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan sesuatu yang dapat dibeli atau ditukar dengan prestasi manusia. Tetapi hanya anugerah Allah yang sanggup menyelamatkan.

Markus 8:38 : Yesus memperingatkan tentang rasa malu terhadap Dia dan perkataan-Nya di tengah angkatan yang tidak setia. Pengakuan terhadap Kristus bukan hanya urusan pribadi, tetapi harus dinyatakan secara terbuka. Kesetiaan kepada Yesus sering kali menuntut keberanian berdiri berbeda dari arus dunia.

Markus 9:1 : Yesus berkata bahwa ada yang tidak akan mati sebelum melihat Kerajaan Allah datang dengan kuasa. Pernyataan ini menunjuk pada pernyataan kuasa Allah melalui peristiwa transfigurasi, kebangkitan, maupun perkembangan gereja mula-mula. Kerajaan Allah bukan sekadar konsep masa depan, tetapi realitas yang mulai dinyatakan dalam karya Kristus.

Setelah memahami penjelasan Yesus tentang jalan salib dan arah sejati mengikut Dia, pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana kebenaran ini diterapkan dalam kehidupan rumah tangga? Iman keluarga tidak cukup hanya dimengerti secara teori, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan keputusan sehari-hari.

1. Iman keluarga harus dibentuk oleh pikiran Allah.

Setiap keputusan dalam rumah tangga entah itu tentang pekerjaan, pendidikan anak, penggunaan waktu, dan relasi, perlu diarahkan oleh firman Tuhan. Jangan sampai arah hidup keluarga hanya ditentukan oleh pertimbangan kenyamanan atau keuntungan duniawi.

2. Iman keluarga harus berani berjalan di jalan salib.

Kesetiaan dalam tanggung jawab, kesediaan mengampuni, dan ketekunan membangun mezbah doa keluarga adalah bentuk nyata memikul salib. Jalan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi itulah arah yang benar.

Yesus telah menyatakan dengan jelas arah perjalanan iman: jalan salib menuju kemuliaan. Para murid pernah hampir kehilangan arah karena mengikuti pikiran manusia.

Kiranya setiap keluarga terus belajar mengerti kehendak Allah dan tetap berjalan setia bersama Kristus. Dengan demikian, iman keluarga tidak menjadi kabur atau menyimpang, melainkan kokoh dan terarah sampai melihat kuasa Kerajaan Allah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Amin! [*]

Penulis: Pdt. Yustina Lole, S.Th

Komentar Facebook
Bagikan ke: